|
|
|
||||||||
|
|
|
|
|
|
|||||
|
Event Pusdatin
IO (Instruktur Outbond) Aris Ahmad Jaya mengawali acara pada malam hari dengan beberapa permainan yang membangun kepercayaan diri bahwa kita bisa melakukan apa pun jika kita yakin bahwa kita bisa. Seorang sukarelawan diminta untuk mematahkan sebatang pensil dengan kelingking, seorang lainnya diminta berdiri di atas gelas, dan seorang lagi membengkokkan sendok. Ketika ternyata berhasil, tepuk tangan dan pekikan “saya bisa !” menggema dan membangkitkan semangat percaya diri. Nuansa kental semangat yang membara ini kemudian dikendurkan dan dilembutkan perlahan-lahan melalui perenungan tentang siapa diri kita yang penuh keterbatasan ini, yang sarat dengan kekurangan dan kelemahan, yang sering menyangka bahwa diri ini hebat, sudah berbuat kebaikan yang banyak dan ikhlas untuk ibu-bapak, untuk istri atau suami dan anak-anak, untuk saudara, teman, atasan, bawahan, tetangga, juga untuk mahluk lainnya serta lingkungan sekeliling. Betulkah demikian? Aroma keharuan yang menyeruak lewat helaan nafas panjang, mata terpejam hingga akhirnya pecah menjadi isak tangis, semoga menandakan sadar diri untuk mengucapkan selamat tinggal pada perangai buruk dan membuka diri untuk sikap dan perilaku yang positif. Acara malam itu diakhiri dengan hiburan organ tunggal sambil menikmati kambing guling. Pagi hari tanggal 28 Januari 2006, setelah menghirup udara pagi yang segar dan menikmati sarapan yang sedap, keluarga besar Pusdatin yang berjumlah sekitar 100 orang berkumpul di pantai untuk mendapatkan penjelasan tentang kegiatan yang akan dijalani seharian itu dan dibagi menjadi 4 kelompok oleh IO. Masing-masing kelompok diminta memilih ketua dan menciptakan yel kelompoknya. Seketika itu juga nuansa keceriaan menyeruak ke udara lewat pekikan ketua kelompok 4 : “Are you ready…?!” yang dijawab spontan oleh anggotanya :”Yessss…!!!” , lalu disambung dengan nyanyian yang ditingkahi dengan lenggang lenggok. Kelompok lainnya satu persatu menyusul meneriakkan yel-yel pembakar semangat, lengkap dengan lenggang lenggoknya. Semuanya lucu, mengundang tawa siapa pun yang melihat. Dimulai dengan permainan “tupai dan pohon” , “polisi dan pencuri”, seluruh peserta berusaha bergerak cepat dan tangkas karena siapa yang lambat kena sanksi, menyanyi di tengah lingkaran peserta. Permainan yang melibatkan seluruh peserta dalam satu lingkaran ini cukup mencairkan suasana dan membuat semua orang siap mengikuti permainan berikutnya yang dilakukan dalam kelompok masing-masing. Seluruh permainan merupakan tantangan-tantangan fisik yang berguna sebagai metafora untuk mempelajari terobosan-terobosan dalam menyelesaikan pekerjaan dalam sebuah tim. Setiap pribadi mengalami pembelajaran bahwa untuk menantang tantangan-tantangan ini, selain harus menguasai teknik, juga harus menguasai keterampilan hidup, yakni bagaimana bersinergi dengan orang lain agar tantangan dapat diatasi. Salah satunya adalah permainan meniti tali yang harus diawali dengan menginjak punggung orang lain. Kapusdatin yang menjadi ketua kelompok 1, juga Kabid Data Tanaman Pangan dan Peternakan sebagai ketua kelompok 4, merelakan punggungnya untuk diinjak anggota kelompoknya. Sementara para anggota kelompok dengan sungkan-sungkan terpaksa harus menginjak punggung bapak-bapak demi sukses kelompok meniti tali. Diperlukan pengorbanan untuk mencapai sukses bersama. Sebagai klimaks dari seluruh permainan itu, seluruh peserta kembali dikumpulkan di pantai, berbaris dalam kelompoknya masing-masing. Kemudian kepada setiap kelompok diberikan 2 buah tabung yang di seluas permukaannya penuh lubang kecil. Selain itu diberikan juga 2 buah bola kecil yang harus dimasukkan ke dalam tabung, serta sebuah ember bocor. Setiap kelompok harus mengisi tabung-tabung tersebut dengan air laut yang diambil dengan ember bocor, hingga tabung penuh dan bolanya keluar sendiri dan jatuh dari tabung. Tanpa dikomando lagi setiap orang langsung ambil posisi, berkerumun dengan jari-jari ramai-ramai menutupi lubang-lubang di tabung. Seorang melempar ember bocor ke laut, dan seorang lagi menyiduk air lalu berlari dan mengisi tabung. Byurr…..! air di ember bocor sebagian besar mengguyur kerumunan peserta yang jari-jarinya menempel di tabung ! Begitulah terjadi berulang-ulang. Tak ada seorang pun yang berusaha menghindari guyuran air itu demi menjaga agar jari-jari tetap menempel di lubang tabung. Suasana sangat hiruk pikuk dengan teriakan, hingga akhirnya terdengar pekikan keras dari kelompok 4 yang pertama kali berhasil memenuhi tabung sampai kedua bola keluar dan jatuh sendiri. Lagi-lagi bergema yel-yel dan nyanyian susul menyusul, ditingkahi beberapa orang yang menceburkan diri ke laut karena terlanjur sudah basah kuyup terguyur. Akhirnya, setelah mandi dan makan siang, panitia dan IO mengumumkan kejuaraan : Kelompok 2 sebagai juara pertama, kelompok 3 juara ke-2, kelompok 4 juara ke-3 dan kelompok 1 juara 4. Tidak ada yang kecewa karena semua mendapat hadiah. Yel-yel dan nyanyian kembali bersahutan seakan tak akan pernah berhenti, sampai akhirnya panitia dengan susah payah berhasil menghentikan keriuhan dan beranjak ke acara penutupan. Beberapa peserta menyampaikan pesan dan kesan pada acara penutupan, yang intinya sangat terkesan oleh outbond ini dan berharap agar jangan hanya sekali ini saja. Sementara IO terkesan pada kekompakan seluruh peserta dalam kelompoknya masing-masing yang dinilainya paling kompak dibandingkan dengan peserta outbond lainnya. Acara akhirnya berakhir juga dengan sambutan Kapusdatin yang menyampaikan kesan senada, bahwa acara seperti ini sangat baik jika bisa diselenggarakan setahun sekali. Permainan telah usai setelah mencairkan kebekuan hati, perasaan dan pikiran yang termakan oleh kejenuhan rutinitas. Berhenti sejenak telah cukup memadai untuk menghimpun energi yang diperlukan untuk kembali berkarya dan semoga tetap berjaya.
|
|||||||||
|
|||||||||