Atase
Pertanian KBRI-Brussel dan ME
DR. IR EDY HARTULISTIYOSO, MSC
Boulevard de la Volume 38
B-1200 Brussel Belgium
Telp. 32 (0) 27790915
Fax: 32 (0) 27728190
Hp: +32474967805
email: eharts@gmx.net
PENDAHULUAN
Sejak penarikan Atase Pertanian, Dr. Andriyono Kilat Adhi, pada akhir September 2005, secara kelembagaan Unsur Pelaksana Bidang Pertanian mengalami kekosongan selama kurang lebih dua tahun. Untuk sementara fungsi pertanian kemudian dilakukan oleh Atase Perdagangan, khususnya untuk menangani kegiatan atau permasalahan penting yang harus segera ditindak lanjuti. Kegiatan bidang pertanian secara resmi baru dimulai kembali sejak kedatangan Atase Pertanian yang baru, Dr. Edy Hartulistiyoso, ke Brussels, pada tanggal 05 Desember 2007.
Mengingat kelembagaan Bidang Pertanian yang cukup lama kosong, maka pada bulan-bulan pertama masa tugas, kegiatan lebih banyak digunakan untuk pembenahan manajemen administrasi, perlengkapan perkantoran, selain kegiatan penunjang lainnya. Kegiatan yang terkait dengan substansi pertanian dilakukan melalui konsultasi dan koordinasi dengan Counsellor Fungsi Ekonomi dan Atase Perdagangan, dan desk study melalui penelusuran dan analisis data, khususnya yang terkait dengan Uni Eropa.
Beberapa kegiatan tersebut disampaikan dalam laporan ini. Laporan disusun sesuai sekuensi dan progress kegiatan yang dapat menggambarkan alur kegiatan sepanjang tahun anggaran.
Brussel, 23 Desember 2008
Atase Pertanian
Dr. Edy Hartulistiyoso
| 1. | RASFF Notification: - Methyl bromide in cocoa butter dan - undeclared milk ingredient |
Pada tanggal 14 Januari 2008 Duta Besar RI menerima surat dari Directorate Asia, External Relations Directorate General, European Commission, mengenai Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF) - Notification untuk produk cocoa butter dan coconut cream.
Notification: 2007.CYP, tertanggal 18 Desember 2007 berasal dari Belanda terkait ditemukannya methyl bromide (CH3BR) pada cocoa butter dalam kategori high level (rata –rata hasil uji lab. = 9.4 ppm) dan merupakan subject dari border rejection. Kontaminasi methyl bromide ditemukan pada sampel 25 kg Pure Prime Pressed Natural Indonesian Cocoa Butter dalam kemasan karton, dari total lot 60000 kgs dalam 2400 karton yang dikirim dari Jakarta dengan negara tujuan Perancis (Dunkirk). Sebagai manufacturer dan sekaligus dispatcher produk tersebut tercatat PT. Bumitangerang Mesindotama, Jl. Diapati Unus no. 27 Cibodas, Tangerang.
Dalam responnya PT. Buitangerang Mesindotama menyampaikan bahwa:
| a. | 60 ton cocoa butter diekspor perusahaannya kepada Delfi Cocoa Netherlands atas pesanan Albrecht & Dill Trading Gmbh; |
| b. | Selama ini tidak ada complain dari buyer. Jawaban tersebut kiranya kurang memadai karena tidak dilengkapi data pendukung yang diperlukan. |
Notification: 2007.0952, tertanggal 20 Desember 2007 berasal dari Inggris, terkait tidak dicantumkannya (undeclared) milk protein pada coconut cream dari Indonesia. Produk dengan brand/trade Bart Spices Ltd yang dikemas dalam kemasan TETRAPAK 200 ml dengan total lot 192 000 unit, diproduksi oleh PT. Pulau Sambu Guntang, Sungai Guntung, Kec. Kateman, Kab. Indragiri Hilir, Riau, dan melalui importir First Grade International Ltd., West Midlands dan Wholesaler Bart Spices Ltd, Bristol akan didistribusikan (re-export) ke Spanyol dan Barbados.
PT Pulau Sambu Guntung telah mersepon jawaban dengan baik, dilengkapi data2 pendukung follow up action yang memadai.
Laporan sudah disampaikan oleh atase Perdagangan.
Melengkapi Laporan Notifikasi tersebut, dan menanggapi respon dari Perusahaan, telah dikirim e-mail kepada GM PT. Bumitangerang Mesindotama, bahwa: 1) Prosedur Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF) dari Uni Eropa merupakan prosedur baku yang dilakukan untuk semua produk ekspor yang masuk ke negara2 Uni Eropa. 2) Kiranya akan sangat bermanfaat, untuk mengantisipasi problem sejenis di masa mendatang dan untuk keamanan produk ekspor kita, data2 laboratorium hasil quality control dapat disiapkan sebagai counter analysis untuk notifikasi yang disampaikan.
GM PT. Bumitangerang Mesindotama telah menjawab e-mail tsb. dan disampaikan bahwa: 1) akan segera disiapkan data Quality Control untuk produk dimaksud, 2) Perusahaan sangat memperhatikan mutu produk, karena sebagian besar produk diekspor ke Amerika dan Eropa, 3) Perusahaan telah menerapkan system manajemen ISO 9001 sejak tahun 2002, dan Food Savety System HACCP & GMP sejak 2006, 4) Perusahaan dipercaya oleh Departemen Perindustrian RI untuk menyusun Revisi SNI kakao olahan.
Laporan sudah disampaikan oleh atase Perdagangan.
| 2. | Pertemuan dengan Chamber of Commerce Propinsi Luxembourg, Belgia, dan informasi Agricultural Fair Libramont |
Pertemuan Koordinator Fungsi Ekonomi dan Atase Pertanian dengan Mr. Alphonse HENRARD, Staf dari Mr. Rene COLLIN, Deputi Bidang Keuangan, Ekonomi, Pertanian dan Turisme, Propinsi Luxembourg, Belgia, dilakukan pada hari Selasa, tanggal 22 Januari 2008, bertempat di kantor Chamber of Commerce, Libramont membicarakan: 1) Partisipasi Indonesia pada Agricultural Fair di Libramont, 2) Business Meeting for Investment and Trade, 3) Komitmen kalangan bisnis di Propinsi Luxembourg, Belgia, untuk mengikuti kunjungan Prince Philippe 4) Informasi tentang rencana trade and investment promotion yang dilaksanakan oleh KBRI.
Mengenai Agricultural Fair di Libramont, Mr. Henrard pada intinya menjelaskan sebagai berikut:
| a. | Agricultural Fair diadakan sejak 1926 dengan jumlah pengunjung kurang lebih 160000 pengunjung dan 700 peserta (termasuk 100 dari negara lain) seperti China yang pada tahun 2007 lalu menggelar 60 stands. Untuk tahun ini direncanakan akan diselenggarakann pada tanggal 25 s/d 28 Juli. |
| b. | Dalam rangka promosi pertanian, ada dua events yang dapat dimanfaatkan sebagai promosi oleh negara lain dalam Agricultural Fair tersebut, yaitu: 1) business meeting di bidang pertanian, serta 2) pembukaan stand. |
| c. | Beliau menyambut baik kemungkinan partisipasi Pemri tahun 2008 ini. Mengingat hal tersebut merupakan yang pertama kalinya dan agar dapat menimbang manfaatnya, disarankan agar KBRI/Pemri menggunakan forum business meeting untuk memperkenalkan pertanian Indonesia terlebih dahulu di tahun ini, sedangkan untuk tahun 2009 dapat dilakukan kembali hal yang sama disertai pembukaan stand. |
Selain itu dibicarakan kemungkinan kerjasama teknik di bidang pertanian.
Mr. Henrard bersedia untuk membantu partisipasi Pemri, akan mengirimkan informasi yang lebih rinci, serta mengupayakan pertemuan lanjutan khusus dengan panitia kerja Agricultural Fair tersebut, termasuk peninjauan lapangan seluas 30 Ha.
Berkenaan dengan agenda pembicaraan tentang business meeting re trade and investment serta keikutsertaan pengusaha dalam kunjungan Prince Philippe, mengingat para pejabat di Chamber of Commerce Libramont telah berganti semua, maka Mr. Henrard menyarankan agar KBRI menghubungi pejabat baru yang terkait, yaitu Mrs. Anne-Michele Barbette.
Laporan telah disampaikan.
| 1). | Kontak lebih lanjut dengan Mr. Alphonse HENRARD telah dilakukan dan disampaikan bahwa: |
| 2). | Belum didapatkan jadwal dari pihak2 yang ingin dipertemukan |
| Brosur2 pameran dsb. akan dikirim dalam waktu dekat |
| 3. | Penyampaian Copy surat oleh F. Van Hoydonck, Managing Director S.A. SIPEF NV: Perubahan status PMA Kelapa Sawit |
Tanggal tgl 24 Januari 2008 Dubes menerima copy surat F. Van Hoydonck, Managing Director S.A. SIPEF NV kepada Menteri Pertanian dan Dr. Laode Ida, Wakil Ketua DPD, terkait:
| 1) | Tindak lanjut permohonan Pertimbangan Mentan sehubungan Perubahan Status PT Umbul Mas Wisesa menjadi PMA |
| 2) | Perluasan kebun Kelapa Sawit di Sulawesi |
Pada tanggal 28 Januari 2008 telah dilakukan komunikasi via telpon dengan
Sekretaris Menteri Pertanian untuk mengkonfirmasikan masalah tersebut dan
diperoleh informasi bahwa pembahasan perubahan status PMA telah dilakukan
dengan pihak-pihak terkait dan secara umum tidak ada masalah, hanay
diperlukan satu pertemuan untuk klarifikasi beberapa hal. Informasi tsb pada
hari yang sama telah disampaikan
Ibu Anita,
Coorporate Manager
PT
Umbul Mas Wisesa untuk segera berkoordinasi dengan Deptan, c/q Sekmen atau
Kepala Pusat Perizinan dan Investasi.
| 4. | Penawaran International Course ‘Master of Ecological Marine Management (ECOMAMA)” |
ECOMAMA merupakan inter-university program yang diselenggarakan oleh
Biology Department, Free University of Brussels, dan Antwerp
University, bekerjasama dengan University of Gent. Program
tersebut merupakan International Course Program (ICP) yang sebagian
dibiayai oleh Vlaams Interuniversitaire Raad – University Cooperation (VLIR
– UOS).
Informasi program dan kesempatan beasiswa telah dilaporkan.
| 5. | Penawaran Master Course on Physical Land Resources |
Program Master Course on Physical Land Resources diselenggarakan
sejak 1997, sebagai pengembangan dari M.Sc. Programmes in Soil Science
dan M.Sc. Programmes in Eremology, yang diselenggarakan masing-masing
oleh the International Training Center for Post Graduate Soil Scientists
(ITC-Gent) dan the International Center for Eremology (ICE), Ghent
University. Atas kerjasama dengan Faculty of Applied Science, Free
University of Brussels, yang menyelenggarakan International
Post-Graduate Training on Fundamental and Applied Quaternary Geology (IFAQ),
lingkup kursus diperluas dengan pilihan konsentrasi Non-Agricultural Use
dan Application of Physical Land Resources.
Informasi program dan kesempatan beasiswa telah dilaporkan.
| 6. | Simplification of Assessment and Authorisation Procedures for New Foodstuffs dan EFSA Preliminary Opinion on Food from Healthy Cloned Animals |
| a. | Pada tanggal 14 Januari 2008 Komisi Eropa mengajukan revisi Community legislation on new foodstuffs and food ingredients (EU Regulation 258/97) untuk mempermudah akses pasar bagi produk tersebut di Uni Eropa. Revisi tersebut juga bertujuan untuk memacu industri untuk melakukan inovasi produk pangan dan sekaligus menanamkan investasi di bidang tersebut. |
| b. | Termasuk dalam foodstuffs yang dimaksud adalah produk rekayasa bioteknologi seperti produk yang diperkaya dengan phytosterols/phytostanols yang dapat menurunkan kadar kolesterol, ataupun pangan konvensional yang tidak dikenal di Eropa, namun dikonsumsi di negara-negara lain, dan terbukti aman dan sehat untuk dikonsumsi, seperti noni juice, konsentrat Kiwiberri dan CLA (conjugated linolieic acid) yang berguna bagi kesehatan. |
| c. | Di masa mendatang permintaan otorisasi produk diajukan kepada Komisi Eropa, yang akan meneruskannya kepada European Food Safety Authority (EFSA) untuk melakukan scientific assessment dan melaporkan hasilnya. Jika produk dinyatakan aman, maka Komisi akan mengajukan otorisasi kepada representasi negara-negara anggota pada Standing Committee for the Food Chain and Animal Health agar produk dapat dipasarkan di Uni Eropa. |
| d. | Untuk pangan konvensional yang berasal dari negara ketiga, prosedur otorisasi juga akan dipermudah. |
| e. | Terkait dengan produk pangan yang berasal dari hewan hasil cloning, Komisi masih menunggu hasil kajian EFSA yang akan disampaikan pada tanggal 8 Mai 2008. Preliminary Opinion EFSA yang dipublikasi pada tanggal 11 Januari 2008 menyebutkan bahwa produk pangan seperti daging atau susu yang berasal dari healthy clones tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dari aspek food safety dibandingkan dengan produk konvensional. |
Sudah dilaporkan. Kajian lebih lanjut akan dilakukan untuk memanfaatkan
peluang ekspor
new foodstuffs and
food ingredients
tersebut di masa mendatang.
| 7. | Tawaran Kerjasama Integrated Farming and Waste Management System dari Per Bondesen M.Sc. |
Mr. Per Bondesen, representative Environmental Protection and Encouragement
Agency (EPEA) atau Internationale Umweltforschung GmbH yang berpusat di
Hamburg pada saat kunjungan Mentan ke Brussel menyampaikan ide kerjasama
Integrated Farming and Waste Management System dan disambut baik oleh
Mentan. Sebagai tindak lanjut beliau telah mengirim email kepada Dirjen
Perkebunan, tertanggal 27 November 2007, via:
mail@deptan.go.id, namun hingga saat ini belum ada tanggapan.
Dari dokumen disampaikan, konsep dan pengalaman mereka dalam bidang yang ditawarkan sangat baik untuk diimplementasikan. Demikian pula potensi untuk mendapatkan funding melalui jaringan yang mereka miliki, misal melalui Uni Eropa atau FAO.
Komunikasi telah dilakukan dengan Deptan, jika diperlukan dan diijinkan akan dilakukan komunikasi langsung dengan Mr. Per Bondesen.
| 8. | EPC Breakfast Policy Briefing mengenai Kebijakan Kelautan Baru Uni Eropa (UE) |
Pada tanggal 10 Januari 2008 telah berlangsung kegiatan Breakfast Policy
Briefing bertemakan “An Ocean of Opportunity” yang dilaksanakan
oleh European Policy Centre (EPC). Briefing ini menghadirkan
pembicara Joe Borg, Komisioner Kelautan dan Perikanan Komisi Eropa (KE), dan
dihadiri oleh a.l kalangan diplomatik, akademisi dan dunia usaha di Brussel.
Dalam Briefing disampaikan:
| 1. | Dengan disetujuinya usulan KE mengenai “Kebijakan Kelautan Integratif UE” oleh KTT Dewan UE pada tanggal 14 Desember 2007. Dewan UE memberikan mandat kepada Presidensi UE berikutnya untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut dan melaksanakannya sesuai dengan rencana aksi yang telah diusulkan KE serta melaporkan kemajuan yang dicapai pada tahun 2009. | |
| 2. | Komisioner Joe Borg menjelaskan bahwa usulan cetak biru “Kebijakan Kelautan Integratif UE” oleh KE disusun dengan tujuan menyelaraskan upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan kepentingan pemeliharaan lingkungan hidup. Cetak biru strategi kelautan ini disusun secara holistik dan integratif serta dilengkapi dengan program implementasi terarah, meliputi: | |
| • | Ruang transportasi kelautan Eropa yang bebas hambatan | |
| • | Strategi Eropa untuk penelitian kelautan | |
| • | Kebijakan nasional kelautan integratif negara-negara anggota UE | |
| • | Jaringan integratif untuk pengawasan kelautan | |
| • | Penindakan terhadap pola penangkapan ikan ilegal dan destruktif | |
| • | Promosi jaringan kelautan Eropa | |
| • | Peninjauan terhadap pengecualian sektor perkapalan dan perikanan dalam Undang-Undang Tenaga Kerja Eropa | |
| • | Strategi mengatasi dampak perubahan iklim terhadap negara pantai | |
Laporan telah disampaikan, perkembangan akan terus dicermati untuk
pertimbangan kajian perbandingan bagi kepentingan pengelolaan kelautan di
tanah air.
| 9. | Agro & Food Expo 2008 |
The 8th International Exhibition & Business Forum on Agriculture & Food Products akan diselenggarakan tanggal 22 s/d 25, 2008bertempat di Semanggi Expo, Jakarta. Kegiatan Agro & Food Expo 2008 terdiri dari pameran, forum bisnis dan seminar tentang potensi investasi sector agribisnis dan makanan. Pameran meliputi produk hortikultur, perkebunan, peternakan, perikanan, agro-tourisme, produk segar, organic, rempah, benih hibrida tropika, bunga tropis, teknologi pertanian, teknologi proses, pengemasan dsb.
Informasi dan undangan telah disebarkan ke berbagai instansi terkait di Belgia, sesuai arahan dan masukan dari Fungsi Ekonomi
| 10. | Café Crossfire debate : Commission's proposals for the 'Health Check' of the CAP |
Mariann Fischer Boel, EU commissioner for agriculture and rural development
telah mengajukan proposal reformasi CAP, atau dikenal dengan “Health Check”
pada 20 November 2007. Sejak itu dan hingga menjadi formal legislative
proposals pada akhir 2008, diskusi dan pembahasan terhadap proposal
terus berlangsung.
Reformasi CAP terakhir tahun 2003 secara prinsip merubah subsidy payments dalam rangka menekan over-production dan limbah pertanian dengan Single Payment Scheme (SPS). Dengan SPS system tersebut subsidi diberikan menurut luas lahan, bukan volume produksi. Petani atau pemilik lahan dengan luas lebih besar dari 0.3 hektar berhak untuk mendapatkan subsidi CAP dan hal ini berdampak pada timbulnya ‘pseudo farmers’:
"If you keep one goat in your backyard you are not a real farmer," Fischer Boel told journalists in Brussels on 20 November.
Pada proposal reform diusulkan luasan lahan minimal menjadi di atas satu hektar. Kriteria lingkungan, food savety dan animal welfare standard juga menjadi pre-condition perolehan subsidi.
Diusulkan pula adanya mekanisme modulasi dari “first pillar” ((direct aids and market support) kepada second pillar (rural development). Perubahan bantuan langsung menjadi Rural Development Fund, diusulkan dilakukan secara gradual, dari 5% saat ini menjadi 13% pada 2015.
Petani dengan pendapatan besar akan terkena dampak reformasi ini, dengan rencana pemotongan subsidi sbb:
10% cuts for payments untuk pendapatan di atas €100,000; 25% cuts for payments untuk pendapatan di atas €200,000; 45% cuts for payments untuk pendapatan di atas €300,000.
Dampak terhadap pengurangan subsidi tersebut akan dirasakan terutama bagi landowners di Jerman, Ingrris, Czech Republic dan Perancis. Namun demikian President Perancis Nicolas Sarkozy telah menyatakan komitmennya untuk mendukung reformasi tersebut.
Pada acara Café Crossfire debate tanggal 21 January 2008 yang diselenggarakan oleh Friends of Europe, Menteri Pertanian Perancis, Michel Barnier, menyatakan perlunya Eropa membangun CAP yang kuat untuk mengantisipasi krisis pangan sebagai akibat krisis energi, dan menegaskan bahwa "Agriculture is back". Jean Martin, President of the Confederation of the Food and Drink Industries of the EU (CIAA), menggaris bawahi bahwa Eropa harus memandang pertanian sebagai “strategic asset” dan menyatakan bahwa era kecukupan pangan yang melimpah akan segera berakhir dan berubah menjadi kekurangan. Sementara Rolf Erksson, Swedish State Secretary for Agriculture, menegaskan perlunya adaptasi dengan perubahan lingkungan dan melepas proteksi dan intervensi kepada petani yang berupa subsidi export, set-aside schemes dsb. Mariann Fischer Boel, EU commissioner for agriculture and rural development telah mengajukan proposal reformasi CAP, atau dikenal dengan “Health Check” pada 20 November 2007. Sejak itu dan hingga menjadi formal legislative proposals pada akhir 2008, diskusi dan pembahasan terhadap proposal terus berlangsung.
Reformasi CAP terakhir tahun 2003 secara prinsip merubah subsidy payments dalam rangka menekan over-production dan limbah pertanian dengan Single Payment Scheme (SPS). Dengan SPS system tersebut subsidi diberikan menurut luas lahan, bukan volume produksi. Petani atau pemilik lahan dengan luas lebih besar dari 0.3 hektar berhak untuk mendapatkan subsidi CAP dan hal ini berdampak pada timbulnya ‘pseudo farmers’:
"If you keep one goat in your backyard you are not a real farmer," Fischer Boel told journalists in Brussels on 20 November.
Pada proposal reform diusulkan luasan lahan minimal menjadi di atas satu hektar. Kriteria lingkungan, food savety dan animal welfare standard juga menjadi pre-condition perolehan subsidi.
Diusulkan pula adanya mekanisme modulasi dari “first pillar” ((direct aids and market support) kepada second pillar (rural development). Perubahan bantuan langsung menjadi Rural Development Fund, diusulkan dilakukan secara gradual, dari 5% saat ini menjadi 13% pada 2015.
Petani dengan pendapatan besar akan terkena dampak reformasi ini, dengan rencana pemotongan subsidi sbb:
10% cuts for payments untuk pendapatan di atas €100,000; 25% cuts for payments untuk pendapatan di atas €200,000; 45% cuts for payments untuk pendapatan di atas €300,000.
Dampak terhadap pengurangan subsidi tersebut akan dirasakan terutama bagi landowners di Jerman, Ingrris, Czech Republic dan Perancis. Namun demikian President Perancis Nicolas Sarkozy telah menyatakan komitmennya untuk mendukung reformasi tersebut.
Pada acara Café Crossfire debate tanggal 21 January 2008 yang diselenggarakan oleh Friends of Europe, Menteri Pertanian Perancis, Michel Barnier, menyatakan perlunya Eropa membangun CAP yang kuat untuk mengantisipasi krisis pangan sebagai akibat krisis energi, dan menegaskan bahwa "Agriculture is back". Jean Martin, President of the Confederation of the Food and Drink Industries of the EU (CIAA), menggaris bawahi bahwa Eropa harus memandang pertanian sebagai “strategic asset” dan menyatakan bahwa era kecukupan pangan yang melimpah akan segera berakhir dan berubah menjadi kekurangan. Sementara Rolf Erksson, Swedish State Secretary for Agriculture, menegaskan perlunya adaptasi dengan perubahan lingkungan dan melepas proteksi dan intervensi kepada petani yang berupa subsidi export, set-aside schemes dsb.
Pengamatan akan terus dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan:
Feb. 2008: Parliament to deliver opinion on health check;
May 2008: Commission to present legislative proposals;
End 2008: possible adoption by EU agriculture ministers - reforms would take effect immediately;
2008-2009: CAP budgetary discussions for the post-2012 period.
| 11. | European Sea Food Exposition, 22-24 April 2008 |
Departemen Kelautan dan Perikanan memfasilitasi pavilion Indonesia bagi
eksportir unggulan dan berkinerja baik untuk pengembangan ekspor di Eropa.
Delegasi RI (DKP) pada ESE akan terdiri dari:
| 1. | Dirjen P2HP, Bpk. Martani Huseini |
| 2. | Irjen, Bpk. Husni Manggabarani |
| 3. | Direktur Pemasaran Luar Negeri, Bpk. Saut P. Hutagalung |
| 4. | Direktur Standarisasi dan Akreditasi, Bpk. Nazori Djazuli |
| 5. |
Kasubdit Promosi dan Pemasaran Luar Negeri, Ibu Rahmah Hayati S.I |
Delegasi akan tinggal di Résidence Saint-Lambert - rue Saint-Lambert 103-105, 1200 Brussels, yang telah dikontrak dari tanggal 19 s/d 26 April 2008.
Paviliun Indonesia seluas 98 m2 berlokasi di Hall 11 dengan nomor Booth 2501. Peserta dari Indonesia :
Duta Besar RI telah berkunjung secara resmi ke lokasi pameran pada tanggal22 April 2008, jam 12.15. Selain mengunjungi stand Indonesia, DUBES juga melakukan diskusi dengan DELRI dan industri peserta pameran.
Paviliun Indonesia menyediakan area untuk melaksanakan kegiatan memasak yang juga berfungsi sebagai show case untuk produk olahan perikanan ready to eat.
Kegiatan ESE 2008 bagi Delegasi RI akan berlangsung dengan rincian sebagai berikut:
| 1. | Discussion Session dan jamuan makan malam, 24 April 2008, jam 17:30 di KBRI | |
| 2. | Jamuan dan Pertemuan | |
| 1). | Pertemuan dengan CBI, 22 April 2008, jam 14:00 s/d 16:00, di Lokasi ESE, bertujuan untuk menjalin kerjasama dalam capacity building | |
| 2). | Pertemuan dengan DG SANCO, 23 April 2008, jam 10.00 s/d selesai, di DG SANCO, bertujuan untuk menjelaskan upaya perbaikan yang telah dilakukan untuk memenuhi persyaratan UE serta meyakinkan FVO agar dapat mencabut CD 236/2006 dan mengijinkan kembali penambahan Approval Number (App. N) dan pendaftaran kembali (relisting) UPI yang dicabut Approval Number- nya, | |
| 3). | Pertemuan dengan Grimsby Institute, 23 April 2008, jam 14:00 s/d selesai, di KBRI/Lokasi ESE | |
| 4) | Pertemuan dengan Wageningen University, 24 April 2008, di Lokasi ESE | |
| 3. |
Pembukaan ESE 2008, penerimaan protokoler dan kunjungan DUBES dan DELRI ke Anjungan Indonesia, 22 April 2008, jam 12:00, di Parc des Exposition, Brussels |
|
| 4. |
Courtesy Call dan Dinner, 21 April 2008, jam 17.00, di KBRI |
|
Diskusi
antara DELRI (DKP), peserta ESE dari Indonesia dan staf KBRI akan dilakukan
pada tanggal 24 April 2008.
Kegiatan diskusi antara pemerintah pusat (Delegasi RI), KBRI dan pelaku
industri seafood menjadi bagian penting dalam upaya untuk
meningkatkan akses pasar seafood ke Eropa.
| 12. | Workshop Avian Influenza |
Pada tanggal 2 April 2008.Attani bersama Kepala Bagian PBB untuk Pangan dan
Pertanian, Biro KLN Deptan, Ir. Pamela Fadhilah, M.A. telah mengikuti
Workshop on Identification of Training needs to control Highly Pathogenic
Avian Flu.
1. Workshop diselenggarakan oleh Directorate General of Health and Consumer Protection (DG SANCO), The European Commission. Peserta yang diundang untuk menghadiri workshop ini adalah Tenaga Veteriner, Pegawai Senior Pemerintah, dan para peminat lain mewakili negara anggota Uni Eropa, negara calon anggota, negara ketiga dan organisasi internasional yang terlibat dengan pengendalian HPAI. Workshop diselenggarakan dengan maksud untuk (1) membangun lokakarya interaktif guna mengetahui manfaat yang diperoleh sejauh ini dari program-program pelatihan yang telah dilaksanakan; (2) melakukan identifikasi pelatihan dan kegiatan bantuan yang dibutuhkan oleh negara-negara yang terkena resiko HPAI; (3) melakukan lesson learned dari kegiatan sebelumnya yang telah dilakukan oleh DG Sanco “Better Training for Safer Food Programme”; dan (4) mendiskusikan kegiatan yang diperlukan di masa mendatang dibawah payung Better Training for Safer Food Programme serta kaitannya dengan inisiatif internasional lainnya. Untuk itu, disebutkan bahwa tujuan lokakarya adalah: (1) melakukan review terhadap kegiatan pelatihan dan bantuan yang terkait dengan HPAI; (2) memberikan kesempatan untuk saling bertukar pengalaman diantara kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh DG Sanco “Better training for safer food”; (3) menghasilkan rekomendasi untuk kegiatan pelatihan dalam program HPAI di masa mendatang.
2. Workshop berlangsung di Alcide de Gasperi Room, 2nd Floor, Charlemagne Building, 170 Rue de la Loi, Brussels pada hari Rabu 2 April 2008. Agenda pertemuan antara lain berupa penyampaian topic bahasan oleh 5 (lima) orang narasumber yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Peserta dibagi dalam 3 (tiga) kelompok dengan topik bahasan (1) isu organisasi pelatihan; (2) isu teknis yang akan dicakup oleh pelatihan HPAI; dan (3) kontribusi DG Sanco terhadap pelatihan HPAI.
3. Workshop dibuka oleh Ms. Paola Testori Coggi (Deputy Director General) dan Dr. Barbara Logar (Veterinary Administration, Slovenia). Bertindak sebagai narasumber adalah Prof. Cecil McMurray, Dr. Yanko Ivanov, Dr. Giovanni Cattoli, Dr. Samuel Muriuki, dan Dr. Remco Schrijver. Seluruh narasumber tergabung dalam organisasi ID-Lelystad/Agriculture Livestock Consultant (ALC) Consortium yang berpusat di Belanda. Topic yang disampaikan oleh narasumber adalah (1) Global Review of Training Programmes in HPAI and Their Effectiveness; (2) Experience of Training in HPAI in the Balkans, Eastern Europe and Turkey; (3) HPAI Training Needs in Affected non-EU Countries and the Roles of OIE and FAO; (4) Training Related Options for HPAI Control in Africa; dan (5) DG Sanco HPAI Training Initiatives in ASEAN Countries.
4. Informasi yang diperoleh dan hasil dari workshop diantaranya:
(1) Kawasan Eropa merupakan satu-satunya kawasan yang mampu mengendalikan penyebaran HPAI. Melalui DG Sanco, EU berperan membantu berbagai negara di kawasan Balkan, Afrika, dan Asia dengan memberikan fasilitasi pelatihan mengenai pengendalian dan kesiapsiagaan menghadapi HPAI. Permasalahan yang dihadapi negara ketiga dan Afrika antara lain disebabkan oleh lemahnya sistem peringatan dini (early warning system) dan lemahnya kemampuan mendiagnostic secara tepat (in timely diagnostic).
(2) Fasilitasi pelatihan oleh DG Sanco diberikan dalam berbagai bentuk, antara lain dengan cara mendatangkan pakar internasional, menyelenggarakan pelatihan untuk petugas/pegawai pemerintah, pelatihan di lapangan dengan mendatangkan missi tenaga ahli secara reguler, pelatihan laboratorium baik di dalam maupun di luar negeri, pelatihan untuk petani, pelatihan untuk petugas kesehatan hewan (veterinarians), praktek simulasi, dan menyediakan perangkat pelatihan melalui internet (e-learning tools).
(3) Memperhatikan topik bahasan yang dikemukan oleh Dr. Samuel Muriuki, koordinator SPINAP-African Union, Inter African Bureau for Animal Resources, kiranya tantangan yang dihadapi Afrika dalam mengendalikan HPAI tidak jauh berbeda dengan yang dihadapi negara ketiga, yaitu (i) sistem produksi ternak unggas yang sangat tidak aman secara biologis (bio-insecurity) karena adanya kontak langsung antara unggas dengan burung liar dan manusia; (ii) lemahnya sistem kesehatan hewan dan kesehatan publik; (iii) adanya pasar unggas hidup secara terbuka dan tidak terkontrol/informal; (iv) buruknya pengendalian sanitasi; (v) lemahnya keterkaitan antara pengusaha swasta dan stakeholders; (vi) adanya perilaku berisiko tinggi berupa kebiasaan dan praktek produsen ternak unggas terutama dalam menyembelih unggas sendiri (home slaughter); (vii) kurangnya sumberdaya untuk merespon secara cepat; dan (viii) lemahnya sistem komunikasi.
(4) DG Sanco mengemukakan bahwa khusus untuk Indonesia masih diperlukan lebih banyak informasi. Indonesia dikenal sebagai negara yang luas wilayahnya dan memiliki situasi spesifik secara geografis. Oleh karena itu, untuk Indonesia kegiatan yang saat ini sedang dilakukan adalah compartementialization dan zoning.
(5) Gagasan yang disampaikan oleh peserta Indonesia pada sessi diskusi kelompok perihal Technical Issues adalah (i) perlunya upaya untuk membangun kesadaran publik dalam mengendalikan HPAI dengan cara mengembangkan perilaku sehat dalam rangka meningkatkan bio-security; (ii) meskipun kegiatan pelatihan dan system pengendalian telah dikembangkan di Indonesia melalui proyek AI yang didanai melalui FAO dan Bank Dunia, masih diperlukan pelatihan laboratorium terutama bagi petugas di dinas peternakan daerah dan petugas karantina; (iii) selain oleh petugas, sistem monitoring dan surveillance harus diperkuat oleh masyarakat agar dapat dilakukan deteksi dini, tanggap dini, pelaporan dini. Pelatihan ini diusulkan diberikan langsung kepada masyarakat umum dan melalui sekolah. Adapun gagasan yang diusulkan pada diskusi kelompok tentang DG Sanco Contribution adalah perlunya benchmarking untuk belajar dari pengalaman negara yang telah mengorganisasikan pengendalian AI dengan baik.
(6) Isu hangat yang juga dibahas pada diskusi kelompok technical issues adalah (i) perlunya pelatihan tentang pemantauan burung liar (wild bird monitoring); (ii) sistem pemusnahan unggas (culling) dari aspek kebijakan kompensasi dan pengaturan penanganannya; (iii) pelatihan yang bersifat praktis di lapangan; (iv) penanganan pembuangan karkas unggas yang dimusnahkan; (v) manajemen situasi setelah terjadi outbreak, apa yang harus dilakukan; dan (vi) pelatihan tentang investigasi outbreak.
(7) Pada akhir workshop, rekomendasi yang diadopsi untuk subyek teknis pelatihan yang dinilai perlu terus difasilitasi oleh DG Sanco adalah (i) public awareness yang dibangun melalui pelatihan untuk masyarakat termasuk petugas, petani dan konsumen; (ii) surveillance and monitoring system- including use and misused wild bird surveillance; dan (iii) laboratory training yang juga mencakup teknik molekuler. Selain itu, juga disarankan agar (i) metoda pelatihan dikembangkan secara spesifik sesuai dengan kebutuhan negara yang bersangkutan; (ii) pelatihan harus langsung diikuti dengan praktek di lapangan; (iii) materi e-learning diberikan dalam format pelatihan untuk memudahkan penyebarluasannya sehingga dapat memberi manfaat kepada masyarakat luas; dan (iv) tenaga ahli yang dikirimkan baik sebagai tim atupun individual sebaiknya memiliki bidang keahlian spesifik sesuai kebutuhan dari negara yang bersangkutan.
Biro Kerjasama Luar
Negeri, Departemen Pertanian perlu melakukan upaya untuk dapat mengakses
langsung program pelatihan yang diselenggarakan DG Sanco. Pihak ALC
Consortium telah menyatakan kesediaannya untuk memberikan informasi tentang
prosedur yang perlu ditempuh. Selanjutnya, koordinasi pelaksanaan pelatihan
secara teknis harus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Peternakan agar
manajemen pelatihan dapat dikoordinasikan dan diselaraskan dengan sistem
yang telah dibangun melalui proyek pengendalian AI yang telah dikembangkan.
Kegiatan pelatihan untuk membangun kesadaran publik dalam pengendalian dan
kesiapsiagaan HPAI dapat dijajagi untuk diusulkan melalui dana pendidikan EU
yang selama ini belum dimanfaatkan oleh Indonesia.
| 13. | Workshop Pertanian, ISTECS |
Pada tanggal 29 Maret 2008, Attani telah mengikuti Workshop “Menuju Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Indonesiayang diselenggarakan oleh Institut for Science and Technology Studies (ISTECS), bertempat di KJRI Frankfurt. Workshop tersebut bertujuan untuk mengkaji ide-ide konkrit yang dapat direalisasikan guna menunjang pembanguan pertanian di Indonesia. Workshop dihadiri oleh sekitar 40 peserta karya siswa dan masyarakat Indonesia dari berbagai kota di Jerman.
Pada Workshop tersebut Attani menyampaikan presentasi berjudul EU Market for Agricultural Products: Opportunities and Challanges, disampaikan dalam dalam perspektif Kendala, Tantangan dan Strategi Pengembangan Pertanian Indonesia. Pada Workshop tersebut juga dipresentasikan:
Setelah sesi presentasi, workshop dilanjutkan dengan Focus Group Discussion untuk merumuskan rekomendasi dari Workshop tersebut.
Rangkuman dan
rekomendasi Workshop sedang disusun oleh Tim ISTECS dan akan menjadi bahan
masukan bagi Departemen Pertanian.
| 14. | Kunjungan kerja ke Belgium Packaging Institut (BGI) |
Pada tanggal 10 April 2008, Attani mengikuti kunjungan Atase Perindustrian dan Sekretaris Tiga Ramzy Kasri ke Belgium Packaging Institut (BGI) dan bertemu dengan General Manager BGI, Mr. Maxence Wittebolle. Pada kesempatan tersebut Atase Perdagangan sebagai ketua rombongan menyampaikan maksud untuk menindak lanjuti rintisan kerjasama dalam penanganan dangerous goods, baik dari segi regulasi maupun operasional pendukung. Selain diskusi dan presentasi, kunjungan juga ditutup dengan melihat fasilitas BGI. Pada kesempatan diskusi Attani menyampaikan kemungkinan lingkup kerjasama juga dalam penanganan/packaging produk pangan, serta kemungkinan pengembangan bio material yang sangat melimpah di Indonesia untuk produksi packaging yang ramah lingkungan.
Hasil kunjungan akan ditindak lanjuti di bawah kloordinasi Atase
Perindustrian.
| 15. | Foire de Libramont, 25 s/d 28 Juli 2008 |
Stand seluas 12 m2 telah disewa untuk keikutsertaan KBRI Brussels pada Pameran Pertanian, Foire de Libramont, tanggal 25 s/d 28 Juli 2008. Lokasi stand (No. 13) berada di Mezzanine Alexpo, berdampingan dengan kedutaan Polandia dan Kedutaan Cina.
Survey lokasi telah dilakukan padahari Kamis, 10 Juli 2008 bersama dengan Fungsi Pensosbud. Berdasarkan kondisi lapang, check list kebutuhan telah disusun. Daftar petugas untuk kegiatan tersebut akan diuusulkan. Stand pameran akan diisi dengan:
- Sample produk-produk pertanian, seperti kopi, teh, aneka spices untuk spa, dll
- Brosur-brosur produk pertanian, alamat mitra pengusaha agroindustri
- Poster perikanan, buku dan CD tentang hasil perikanan, poster agroindustri, agro wisata dsb.
| 16. | Demo penyajian kopi dan teh |
Kunjungan Delri mengikuti pertemuan like-minded developing countries dengan Komisi Eropa, 23 Juni 2008
Delri yang terdiri dari Direktur Tanaman Tahunan – Ditjenbun - Deptan, Asisten Deputi Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Deputi Bidang Pertanian dan Kelautan, Kementrian Koordinator Ekonomi, Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia, Advisor, Dewan Minyak Sawit Indonesia, bersama Konselor Ekonomi, Atase Perdagangan dan Atase Pertanian – KBRI Brussel telah mengikuti pertemuan like-minded developing countries dengan Komisi Eropa, 23 Juni 2008, bertempat di Mission of Brazil. Pertemuan diikuti oleh 44 peserta, dengan agenda diskusi dengan KE (DG TREN) tentang metodologi untuk perhitungan emisi gas rumah kaca (net greenhouse gas emissions) yang tercantum pada Draft RED, Annex VII-C, serta land use change.
Beberapa komitmen terkait aktualisasi literatur atyau rujukan yang digunakan dalam perhitungan greenhouse gas emission, data actual terkait penelitian yang sedang dilakukan untuk kelapa sawit telah disepakati untuk dikomunikasikan lebih alnjut dengan DG TREN. Juga kemungkinan duplikasi sertifikasi EU dan RSPO di masa mendatang, akan diantisipasi sejak awal.
Telah dilaporkan
| 17. | 50th Anniversary Symposium European Fruit Juice Association, 24 June 2008 |
Peluang kerjasama sedang dijajagi dengan Ms. Isabel Pallas dari Newbell, sebuah konsultas bisnis buah dan sayuran berbasis di Uruguay (Torre X Juncal 1378 of. 603, Montevideo 11000, Uruguay).
Attani dan Sdr. Ramzy Kasri telah menghadiri 50th Anniversary Symposium European Fruit Juice Association, 24 June 2008. Acara diisi dengan presentasi dan talk show tentang industri minuman di Eropa, peran fruit juice bagi kesehatan, kebijakan UE, serta aspek sustainability dari fruit juice industry. Industri jus buah secara umum mengalami fluktuasi, namun kecenderungan meningkat dengan meningkatnya pola hidup sehat. EU menganggarkan dana sebesar € 90 juta School Fruit Scheme untuk pembelian dan distribusi buah dan sayuran segar ke sekolah dalam rangka mengatasi obesitas anak-anak sekolah.
Telah dilaporkan.
| 18. | Revision of Commission Decision 236/2006/EC and Listing of Establishments |
Mr. Paul VAN GELDORP, Head of Unit Bilateral International Relations, DG
SANCO – European Commission, pada tanggal 20 Juni 2008 menyampaikan
informasi mengajukan draft proposal untuk meninjau Decision
236/2006/EC sebagai tindak lanjut atas kemajuan yang dicapai Pemri dalam
meningkatkan kualitas ikan dan produk ikan yang diekspor ke Uni Eropa.
Komisi Eropa saat ini tengah Draft proposal memuat usulan pencabutan
systematic checks terhadap logam berat pada produk akuakultur dan
histamine pada spesies tangkapan. Usulan tersebut telah diterima oleh
negara-negara anggota UE dalam pertemuan Standing Committee on Food
Chain and Animal Health (SCoFCAH) dan saat ini dalam proses adopsi
secara formal oleh KE. Meskipun demikian diberikan catatan bahwa
systematic checks terhadap logam berat tetap harus dilakukan untuk
wild fish. Selain itu disampaikan bahwa persetujuan terhadap daftar
new establishment yang diajukan, juga telah diputuskan.
Informasi telah disampaikan dengan catatan khusus dari KBRI Brussels untuk menjaga kepercayaan tsb dengan senantiasa meningkatkan kualitas sitem pengecekan di tanah air.
Telah dilaporkan
| 19. | Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF): Mercury in frozen gutted whole red snapper (Lutjanus Sp) |
Notification: 2008.AZJ,
tertanggal 24 Juni 2008 berasal dari Border Inspection Post of Livorno –
Pisa – Itali, terkait ditemukannya mercury pada frozen gutted
whole red snapper (Lutjanus Sp) di atas ambang batas, yaitu sebesar 0.7
mg/kg – ppm (max. permitted level 0.5 mg/kg – ppm) dan produk harus
dikirim kembali ataupun dimusnahkan (product (to be) re-dispatched or
destroyed). Mercury ditemukan pada sampling dari red
snapper whole gutted (frozen whole fish) dari total lot 2530 kg yang
dikemas dalam kemasan karton 22 kg, tercatat berasal dari PT. Marindo Makmur
Usahajaya, Jl. Muncul Industri II, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur.
Notifikasi keluar tidak lama setelah informasi pencabutan
Decision 236/2006/EC,
sehingga KBRI Brussel dalam laporannya kembali menggarisbawahi
pentingnya menjaga
kulitas sistem pengecekan dalam rangka peningkatan daya saing produk
perikanan ke Eropa.
| 20. | RASFF Notification: Aflatoxins in prepacked ground nutmeg from Belgium, raw material from Indonesia |
Notification: 2008.0555,
tertanggal 27 Mai 2008 terkait ditemukannya aflatoxin dengan kadar
7.4 s/d 7.6 μg/kg – ppb (max. permitted level 5 μg/kg – ppb) pada
prepacked ground nutlmeg, berasal dari official control on the market
di Belgia dan merupakan subject bagi public warning terhadap
kesehatan konsumen. Produk tercatat berasal dari CV Gunung Intan, Jl. Arie
Lasut No. 10, Kombos Menado, yang diekspor melalui CATZ International BV,
Rotterdam – Belanda dan didistribusikan oleh IFSI Belgia kepada
retailer Colruyt Supermarket dan OKAY Supermarket, Belgia
Kajian tentang quality control on the market perlu dilakukan mengingat rantai market yang panjang memungkinkan kontaminasi produk terjadi meskipun raw material telah bebas dari kontaminasi.
Telah dilaporkan.
| 21. | RASFF Notification: Unauthorized use of colour E127 erythrosine in fruit flavour dragees erythrosine in fruit flavour dragees erythrosine in fruit flavour dragees from Indonesia, dispatched from Singapore |
Notification: 2008.ATW,
tertanggal 20 Mai 2008 dari Cypres, terkait ditemukannya food additive (colour
erythrosine – cl number 45430-e127) sebagaimana tercantum dalam label
kemasan, yang terlarang untuk digunakan pada produk Chewy Dragees
Mentos Fruit (Directive 94/36/EEC). Produk tersebut tercatat
berasal dari PT Perfetti Van Melle, Bogor, yang diekspor melalui T
Specialist International(s) PTE LTD, 381 Joo Chiat Road, Singapore dan
dikirim ke Leaderbrands Co. LTD, 1, Antifonitou Street, Limassol – Cypres
dan merupakan subject to be re‑dispatched or destroyed.
Koordinasi di masa mendatang dengan Atase Perindustrian untuk masalah
sejenis,
mengingat secara substansial masalah tersebut berada pada lingkup
perindustrian.
| 22. | Summer School (SS) “Managing Biodiversity in Developing Countries” pada tanggal 19 s/d 30 Mei 2008 |
Atase Pertanian KBRI Brussel telah mengikuti
Summer School
(SS) “Managing Biodiversity in Developing Countries” pada
tanggal 19 s/d 30 Mei 2008 di Jerman yang diselenggarakan Center for
Tropical and Sub Tropical Agriculture and Forestry (CeTSAF), The Georg-August
University of Goettingen (GAUG), bekerjasama dengan Federal Ministry
of Economic Cooperation and Development dan German Academic
Exchange Service (DAAD).
Peserta
SS berjumlah 33 orang, yang berasal dari universitas, lembaga penelitian
maupun instansi pemerintah dari 16 negara.
Dalam kesempatan
tersebut Atase Pertanian KBRI Brussel menjadi salah satu pembicara
pada panel diskusi dengan tema “Managing Biodiversity – The Role of
Experts, (Alumni) Networks and Universities” pada Main Stage Plaza of
Diversity, Ninth Meeting of the Conference of the Parties to the Convention
on Biological Diversity (COP9) tanggal 28.
Mei
di Bonn. Berita dialog dimuat dalam DAAD-Magazine.
Peserta bersepakat untuk menindak lanjuti forum komunikasi dengan kerjasama secara lebih intensif dan membentuk International Biodiversity Networking (INBINET) sebagai wadah komunikasi.
Telah dilaporkan
Berita/Laporan Mingguan
Minggu 23: Penyerahan European Business Awards untuk Perusahaan Ramah Lingkungan
Pada 3 Juni 2008, Komisioner UE bidang lingkungan mengumumkan empat pemenang European Business Awards for the Environment, pada kesempatan berlangsungnya Green Week Conference. Diberikan kepada sejumlah perusahaan yang telah mendapatkan penghargaan sejenis pada tingkat nasional, penghargaan tersebut ditujukan untuk kalangan bisnis Eropa yang memberikan konstribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dengan mengkombinasikan inovasi, keberlanjutan ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan. Dari 125 perusahaan yang dinilai, ditetapkan 11 finalis dengan empat kategori, masing-masing kategori manajemen, produk, proses dan kerjasama internasional dengan pemenang berturut-turut adalah sejumlah perusahaan dari Inggris, Austria, Jerman dan Belanda.
Minggu 24: Trend Peningkatan Kebutuhan Bio-fuel Dunia
Sebuah studi tentang World Bio-fuels yang dilakukan oleh Freedonia Group memprediksi bahwa kebutuhan bio-fuel dunia akan meningkat 20 persen per tahun hingga mencapai 92 juta ton pada tahun 2011, dengan rincian Amerika Serikat 45,00 ton, Eropa Barat 17,70 ton, Asia Pasifik 8,85 ton dan wilayah lainnya 20,45 ton. Pertumbuhan pasar akan dipacu oleh ekspansi pasar bio-fuel di Amerika, Asia Pasifik dan Eropa Barat. Afrika dan Eropa Timur diperkirakan akan membutuhkan bio-fuel dengan tingkat pertumbuhan sedikit di atas rata-rata sedangkan Amerika Latin diperkirakan sedang. Kombinasi antara politik domestik, meningkatnya harga minyak, meningkatnya kepedulian terhadap pemanasan global dan potensi ekonomi bio-fuel menyebabkan banyak negara menyusun perangkat hukum yang mendukung industri bio-fuel. Program pengembangan bio-fuel di berbagai negara, selain untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi juga sebagai sarana untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian produksi cereal based (jagung dan gandum) bio-ethanol diprediksi akan terus berlanjut di Amerika Serikat dan Eropa Barat, juga sugar cane-based bio-ethanol di Amerika Latin. Demikian pula dengan produksi bio-diesel dari minyak kedelai di Amerika Serikat, dari raps di Eropa dan dari minyak sawit serta jatropha di Asia Pasifik diperkirakan akan terus berkembang.
Minggu 25: UE Periksa Biodiesel Impor dari AS
Pada tanggal 13 Juni 2008, UE mengumumkan upaya investigasi anti subsidi dan anti dumping terhadap biodiesel yang diimpor dari AS. Hal tersebut merupakan tindak lanjut protes European Biodiesel Board pada 29 April 2008 yang menyatakan bahwa impor biodiesel akan membawa pengaruh negatif terhadap industri biodiesel Eropa karena menyebabkan rusaknya harga dan market share. KE menyimpulkan perlunya investigasi lebih lanjut setelah seluruh dokumen protes memenuhi persyaratan sesuai Peraturan Dasar Anti Subsidi dan Anti-Dumping UE. Berdasarkan dokumen tersebut diindikasikan bahwa AS telah memberikan subsidi pada sektor biodiesel, maupun adanya dumping ke pasar Eropa. Subsidi tersebut meliputi federal exercise dan income tax credits serta bantuan finansial dari negara federal untuk peningkatan kapasitas produksi. KE akan membuat finding dari investigasi tersebut paling lambat pada 13 Maret 2009 dan akan dipresentasikan ke seluruh negara anggota. Jika terbukti, maka akan dilakukan ‘countervailing duties’ untuk kasus subsidi dan ‘anti-dumping duties’ pada kasus dumping.
Minggu 26: UE Perbaiki Skema Bantuan untuk Kapas
Pada 23 Juni 2008, Dewan UE telah mensahkan perubahan skema bantuan UE untuk kapas (EU cotton support scheme) yang didukung oleh Komisioner UE Bidang Pertanian, Mariann Fischer Boel. Dengan perubahan tersebut maka komposisi bantuan akan terdiri atas 65 persen berupa “decoupled” atau bantuan tidak terkait langsung dengan produksi dan 35 persen sisanya berkenaan dengan produksi dalam bentuk area payments. Skema baru tersebut menggantikan mekanisme bantuan saat ini yang sudah dianulir oleh Mahkamah Eropa pada 7 September 2006. Dalam kesempatan konferensi pers, Komisioner Boel menekankan bahwa perubahan tersebut sejalan dengan tujuan reformasi Common Agricultural Policy (CAP) untuk menjamin pendapatan produsen yang lebih stabil dan memungkinkan mereka untuk tanggap terhadap perkembangan pasar.
Minggu 27: UE Tawarkan Bantuan € 1 milyar untuk Negara Miskin
UE akan menawarkan bantuan bagi petani dari negara-negara miskin untuk meningkatkan produksi pangan sebesar € 1 milyar dari anggaran pertanian UE yang tidak terbelanjakan (unspent agriculture funds). Hal tersebut disampaikan Komisioner UE Bidang Pertanian, Mrs. Mariann Fischer Boel pada kesempatan konferensi "Who will feed the world?" yang diselenggarakan oleh Parlemen Eropa (PE) dan Presidensi Perancis, pada tanggal 3 Juli 2008 di Brussel.
Mrs. Fischer Boel menyatakan bahwa UE sangat prihatin terhadap krisis akibat dampak kenaikan harga pangan yang diderita negara-negara miskin. Bantuan UE dapat digunakan oleh negara-negara berkembang yang termasuk importir pangan untuk pengadaan benih dan pupuk bagi peningkatan produksi (85%) dan sisanya (15%) berupa bantuan pangan. Proposal bantuan tersebut berasal dari anggaran €750 juta pada 2008 dan €250 juta pada 2009 yang sedianya dialokasikan bagi produk EU yang tak terjual, namun tidak diperlukan lagi akibat kenaikan permintaan pangan.
Minggu 28: KE Tuntut Pengembalian Dana Subsidi dari Negara UE
Komisi Eropa (KE) memutuskan untuk menarik dana subsidi CAP (Common Agricultural Policy) sebesar € 410,3 juta dari negara anggota karena dinilai tidak dibelanjakan (unduly spent). Pengembalian anggaran tersebut ke anggaran UE dilakukan mengingat tidak cukupnya prosedur kontrol ataupun penggunaan tidak sesuai kebijakan EU untuk anggaran pertanian. Negara anggota bertanggung jawab terhadap pengeluaran dan pengendalian anggaran sesuai Common Agricultural Policy (CAP) dan Komisi harus memastikan bahwa anggaran tersebut digunakan sesuai prosedur. Mrs. Mariann Fischer Boel, Commissioner for Agriculture and Rural Development, menyampaikan bahwa Komisi telah bekerja keras untuk melakukan pengawasan terhadap anggaran tersebut. The Court of Auditors telah mencatat adanya kemajuan sistem control pada beberapa tahun terakhir dan Komisi berkomitmen untuk terus menigkatkan kinerja untuk hasil yang lebih baik. Menurutnya, uang tersebut berasal dari pembayar pajak, oleh karena itu mereka berhak untuk mengetahui bahwa uangnya digunakan dengan bijak.
Pengamatan:
Penyampaian penghargaan tersebut kiranya merupakan refleksi apresiasi UE terhadap peran serta sektor swasta dalam isu-isu perlindungan lingkungan. Pada aspek yang lain, pemberian penghargaan tersebut juga merupakan media yang baik dalam rangka peningkatan kesadaran publik, termasuk dalam aspek pemajuan eco-innovation.
Pengamatan :
Peningkatan kebutuhan dunia akan bio-fuel menjadi peluang bagi Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, sekaligus juga tantangan untuk dapat memanfaatkan peluang tersebut dengan daya saing yang tinggi. Mengingat bahan baku bio-fuel saat ini sebagian besar berasal dari bahan pangan (sereal dan minyak), strategi pengembangan yang mengoptimalkan kebutuhan energi dan pangan menjadi sangat penting. Di masa mendatang, penelitian untuk memanfaatkan bahan non-pangan untuk biofuel, seperti algae, jatropha ataupun sumber bio-mass yang lain perlu dikembangkan secara intensif.
Pengamatan
Persaingan perdagangan di bidang biodiesel terlihat semakin ketat dengan meningkatnya volume perdagangan biodiesel di tingkat global. Kasus-kasus sejenis kiranya dapat menjadi pelajaran bagi Pemri dalam menyusun strategi pengembangan dan pemasaran biodiesel di masa mendatang.
Pengamatan :
Pada skala regional, kapas merupakan sektor penting, terutama bagi Yunani (9.1 persen dari total output pertanian) dan Spanyol (1.3 persen ). Sekitar 76 persen (1.45 juta ton, 2005) dari total produksi kapas UE berasal dari Yunani. Implikasi reformasi terhadap harga kapas di pasar dunia dinilai tidak signifikan mengingat pada tingkat internasional, UE hanyalah pemain minor dengan kontribusi hanya 1.4 persen dari total produksi dunia (2007). EU tidak menggunakan subsidi ekspor dan menawarkan duty free access.
Pengamatan :
Anggaran CAP (Common Agricultural Program) merupakan anggaran UE yang terbesar yang didapatkan dari kontribusi seluruh negara anggota. Pemanfaatan dana CAP, khususnya yang berupa subsidi pertanian acap mengundang perdebatan yang panjang antar negara anggota. Dengan latar belakang sensitivitas pemanfaatan anggaran tersebut, pencairan dana untuk bantuan negara pihak ketiga nampaknya akan segera mengundang reaksi dari seluruh negara anggota UE.
Pengamatan
Prosedur audit regular merupakan instrument UE yang penting untuk melakukan
pengawasan pengeluaran CAP, dan mengijinkan adanya penarikan (recovery)
sejumlah anggaran yang telah disalurkan ke negara anggota bila ditemukan
kelemahan dalam sistem pengawasan dan verifikasi. Tiga negara yang secara
signifikan harus melakukan pengembalian dalam waktu dekat adalah Itali (€
145.2 juta), Yunani (€ 127.7 juta) dan Inggris (€ 69.4 juta).
| 23. | Pertemuan Cairns Group Pra–Sidang Mini Ministerial WTO di Jenewa, 20 Juli 2008 |
Dalam rangkaian persiapan pertemuan tingkat menteri di Jenewa pada tanggal 21-26 Juli 2008, Cairns Group mengadakan pada tanggal pada tanggal 20 Juli 2008. Pertemuan tersebut berlangsung pada jam 10.00 di perwatap Australia dan dipimpin oleh Menteri pertanian Australia. Pada dasarnya, negara-negara anggota Cairns Group adalah eksportir produk-produk pertanian seperti Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Malaysia, Thailand dan Indonesia yang menginginkan penurunan tarif dan penghapusan berbagai mekanisme distorsi pasar. Kesepakatan-kesepakatan tersebut telah disusun dalam suatu Cairns Group Communique yang akan disampaikan pada saat sidang Mini Ministerial. Dalam hal ini, Indonesia juga telah menyetujui draft akhir Communique tersebut.
Pada saat ini, Indonesia lebih banyak mengimpor daripada mengekspor produk-produk pertaniannya. Namun demikian, Indonesia dapat mendukung posisi Cairns Group dengan pertimbangan bahwa tarif bagi produk-produk pertanian di Indonesia sudah relatif rendah (rata-rata +/-15%) sehingga penurunan tarif tidak akan berdampak besar. Selain itu, Cairns Group juga mewakili kepentingan utama pertanian Indonesia di WTO, yaitu special products dan special safeguard mechanism.
Expert Seminar on “Ensuring Food Quality within the Value-Added Chain: Demands under Global Conditions” pada tanggal 21 s/d 24 Juli 2008 yang diselenggarakan oleh Department of Crop Sciences, Georg-August-University of Goettingen (GAUG), Germany
Atase Pertanian KBRI Brussel telah mengikuti Expert Seminar on “Ensuring Food Quality within the Value-Added Chain: Demands under Global Conditions” pada tanggal 21 s/d 24 Juli 2008 yang diselenggarakan oleh Department of Crop Sciences, Georg-August-University of Goettingen (GAUG), Germany. Seminar tersebut diikuti oleh delapan belas expert dari Jerman, Jordan, Israel, Republik Benin, Spanyol, Ethiopia, Thailand, Sudan, Indonesia, Costa Rica, Cina dan Brazil. Seminar dibuka oleh Dekan Fakultas Pertanian, Georg-August-University of Goettingen, Prof. Dr. Wolfgang Luecke. Pada kesempatan tersebut, peserta seminar secara khusus diundang dalam acara resepsi oleh Presiden the Georg-August-University of Goettingen, Prof. Dr. Kurt von Figura dan melakukan dialog tentang pendidikan dan penelitian di bidang pangan, khusunya aspek kualitas dan value-added chain.
Pada seminar tersebut Atase Pertanian hadir sebagai salah satu pembicara dan menyampaikan presentasi tentang “EU Market on Agricultural Products: Opportunity and Challenge for the Thousands Islands Indonesia” pada tanggal 23 Juli 2008. Presentasi tersebut, selain memberikan gambaran peluang dan tantangan pasar produk pertanian dan pangan di Eropa bagi Indonesia, juga disampaikan strategi dan perkembangan pertanian Indonesia dalam menghadapi tantangan global. Presentasi lainnya berasal dari kontribusi expert Jerman, Costa Rica dan Cina, juga kontribusi dari expert alumni jerman.
Dari seminar
tersebut terlihat pentingnya aspek kualitas produk pertanian dan pangan di
Eropa sebagai bagian dari upaya perlindungan konsumen, khususnya aspek
kesehatan. Dengan adaya CAP maka pada seluruh negara anggota UE memberikan
perhatian yang sama terhadap kualitas produk.
Sebagai
konsekuensi-nya, negara-negara pengekspor produk pertanian dan pangan ke
Eropa harus senantiasa meningkatkan kualitas produk agar sesuai dengan
standar produk Uni Eropa.
| 24. | Foire de Libramont, 25 s/d 28 Juli 2008 |
KBRI Brussel telah berpartisipasi pada Pameran Pertanian, Foire de Libramont,Stand
tanggal 25 s/d 28 Juli 2008. Stand seluas 24 m2 (12 m2
dan 12 m2 free), berada pada Stand 33.B13 Gedung Walexpo Lt1.
berdampingan dengan kedutaan Polandia.
Keikutsertaan Indonesia maupun KBRI Brussel pada pameran tersebut merupakan
untuk yang pertama kalinya dan merupakan satu-satunya peserta dari negara
Asia.
Selain menampilkan sejumlah paket informasi mengenai profil pertanian nasional, profil produk perikanan, agrowisata, ekspose sektor agro-industri nasional, rempah-rempah, produk makanan dan minuman serta produk permesinan buatan dalam negeri juga ditampilkan pula informasi audio visual tentang kawasan industri yang ada di Indonesia. Stand Indonesia juga membagikan sample minuman teh dan kopi Indonesia yang digiling langsung dari biji kopi kemasan vakum kepada para pengunjung. Koran lokal berbahasa Perancis Sudpresse – Luxembourg meliput kegiatan tersebut dan memuatnya pada terbitan Senin, 28 Juli 2008, dengan judul “Déguster le café indonésien”.
Dari
pengalaman keikutsertaan yang pertama kali ini dapat disimpulkan bahwa
pameran tersebut sangat potensial sebagai ajang promosi TTI, tidak hanya
produk pertanian dan industri, namun juga berbagai produk maupun layanan
jasa yang terkait. Untuk itu KBRI Brussel berencana membuka kembali stand
pameran pada tahun-tahun mendatang dengan skala yang lebih besar dan
mengajak peran serta pengusaha nasional.
| 25. | Rapat koordiansi Atase Pertanian di Departemen Pertania, 11 s/d 15 Agustus 2008 |
Sesuai surat Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri No. 1850/KL.410/A.5.3/VII/08,
tanggal 22 Juli 2008, Atase Pertanian telah mengikuti rapat koordiansi,
tanggal 11 s/d 15 Agustus 2008, di Jakarta. Kegiatan rangkaian rapat terdiri
dari:
| 1. |
Kunjungan lapangan untuk melihat fasilitas Karantina di Pelabuhan Tanjung Priuk dan Bandara Soekarno Hatta. Selain fasilitas laboratorium standar, Indonesia memiliki fasilitas Karantina Hewan Peliharaan di Bandara Soekarno Hatta dan merupakan yang terbesar di ASEAN. Dengan fasilitas yang dilengkapi dengan laboratorium dan klinik hewan tersebut, konsumen juga dapat menitipkan hewan peliharaan untuk waktu tertentu. |
|
| 2. |
Kunjungan lapangan ke petani eksportir buah di Bogor dan eksportir sayuran di Lembang. Maksud kunjungan adalah untuk meninjau upaya pemerintah dan petani dalam pengelolaan aspek kelembagaan maupun aspek teknologi untuk ekspor produk. Pemerintah memberikan pelatihan dan pendampingan yang terkait HACCP dan standar produk ekspor. Selain itu upaya penerapan Good Agricultural Practice juga sedang dilakukan sebagai jalan untuk sertifikasi produk ekspor. |
|
| 3. |
Seminar Peluang pemaparan Ekspor Produk Pertanian serta Workshop tentang Peluang Investasi. Pada seminar yang dihadiri oleh perwakilan dari dinas pertanian daerah, asosiasi pengusaha dan instansi terkait. Atase Pertanian memaparkan peluang dan tantangan ekspor produk pertanian, dan menekankan arti pentingnya aspek kualitas yang perlu mendapat perhatian, sebagai upaya peningkatan daya saing ekspor produk pertanian. Pada Workshop tentang Peluang Investasi, peserta mendapatkan pembekalan tentang peluang investasi serta potensi produk khususnya kelap sawit serta kendala tantangan yang dihadapi, khususunya terkait isu lingkungan. |
|
| 4. | Pengarahan oleh Mentan dan Sekjen Deptan. Mentan dan Sekjen pada kesempatan terpisah memberikan pengarahan kepada Atase pertanian dengan pokok-pokok sbb: | |
| • | Memberikan advokasi terhadap permasalahan yang terkait produk ekspor sepserti kakao, kopi, minyak sawit dsb. | |
| • | Melakukan market intelegen dan membidik akses pasar produk pertanian | |
| • | Memanfaatkan secara maksimal peluang bantuan2 lembaga internasional | |
| • | Mengamankan perjanjian yang sudah dilakukan dan mengambil keuntungan dari perjanjian tersebut | |
| • | Bekerjasama dengan atase perdagangan dan fungsi ekonomi untuk memfasilitasi swasta, deawan dan asosiasi dalam menembus pasar ekspor | |
Selain rangkaian koordinadi dengan deptan, pada tanggal 19 Agustus atase pertemuan bertemu dengan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Ditjen PHKA, Dephut, untuk melakukan koordinasi terkait progres permohonan Breeding Loan Gajah oleh Paradisio. Pada kesempatan tersebut diinformasikan bahwa Dephut telah melakukan rapat koordinasi dan untuk selanjutnya pihak Paradisio diminta untuk melakukan komunikasi dengan Direktur Taman safari untuk membicarakan aspek teknis dan tindak lanjut kerjasama yang harus dilakukan.
Dengan rapat koordinasi tersebut diharapkan adanya peningkatan sinkronisasi antara perkembangan pertanian dalam negeri dan informasi serta upaya kerjasama yang dilakukan oleh Attani di perwakilan. Koordiansi antara lembaga terkait termasuk pelaku usaha pertanian juga diharapkan dapat ditingkatkan.
| 26. | Kunjungan Ke ZeeBrugge, tanggal 27 Agustus 2008 |
KBRI Brussel telah mengunjungi Zee Brugge pada hari tanggal 27 Agustus
2008. Kunjungan diterima dan dipandu oleh Mr. Piet Vandenkerkhove
yang menjelaskan fungsi, aktivitas, kelembagaan serta fasilitas ZeeBrugge
sebagai pelabuhan penting di Belgia. Pelabuhan yang sejak 1984 terus
berkembang dengan reklamasi pantai sepanjang 4 km merupakan pelabuhan
penting yang dikelola oleh pemerintah daerah Brugge. Selain melayani Roll-in
Roll-off, Zee Brugge merupakan pelabuhan trans-shipment bagi mobil, kertas,
LNG, produk pertanian dll. ke wilayah Eropa, dan khususnya ke UK. Sebagai
pelabuhan pertanian yang penting, Zee Brugge memiliki terminal handling and
processing bagi product Tropicana, buah kiwi dan banana. Dibandingkan dengan
Pelabuhan Anwert, khusus bagi terminal produk pertanian Zee Brugge memiliki
keunggulan komparatif, yaitu jauh dari polusi lingkungan yang sangat
sensitive bagi kualitas produk pertanian, khususnya buah kiwi.
Kunjungan tersebut selain melihat langsung fasilitas Zee Brugge khususnya untuk ekspor-import prosuk pertanian dan pangan, juga untuk melakukan pendekatan bagi kemungkinan Zee Brugge sebagai entry point bagi ekspor komoditas pertanian Indonesia ke Eropa.
| 27. | Kunjungan Kerja Menteri Pertanian ke Eropa dan Arab saudi, 10 s/d 15 September 2008 |
Menteri Pertanian RI telah melakukan kunjungan kerja ke Eropa dan Arab Saudi
tanggal 10 s/d 15 September 2008.
| 1. | Kunjungan diawali dengan pertemuan dengan Menteri Pertanian Belanda, H.E. Ms. Gerda Verburg, tanggal 10 September 2008. Pada kesempatan tersebut menyampaikan terima kasih atas kesediaan Ms. Gerda Verburg atas kesediaanya meninjau langsung kondisi lapang kebun kelapa sawit bulan agustus lalu serta atas dukungan Belanda untuk pengembangan sustainable palm oil baik di tingkat nasional Belanda ataupun Eropa. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan evaluasi singkat tentang kerjasama bilaterial di bidang pertanian, khusunya dalam bidang Avian Infleuenza, palm oil dan biofuel, dan produk hortikultur. Dalam perjalanan ke Brussel, Mentan dan rombongan berkesempatan mengunjungi budidaya strawberry di Zundert, Belanda. |
| 2. | Di Brussel Mentan bersama Menteri Komoditi dan Industri Perkebunan Malaysia melakukan Joint Malaysia-Indonesia Roundtable Discussion on Palm Oil Sustainability and Biofuels with Members of the European Parliament, pada tanggal 11 September 2008. Pada kesempatan tersebut kedua Menteri menekankan bahwa pengelolaan perkebunan kelapa sawit di kedua negara telah dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab berpedoman kepada RSPO yang diakui secara internasional dan sesuai dengan kebijakan pengelolaan lingkungan. Untuk itu diharapkan draft RED Uni Eropa yang sedang bergulir tidak menjadi TBT bagi kelapa sawit, khususnya biofuel yang berasal dari minyak sawit. Selain kegiatan butir 2, juga telah dilakukan acara buka bersama dengan delegasi Malaysia sekaligus pertemuan bilateral untuk persiapan roundtable, serta briefing tentang pertanian dengan staf KBRI Brussel. |
| 3. | Di Arab Saudi, mentan dan rombongan melakukan pertemuan dengan pengusaha calon investor di Jeddah serta melakukan ibadah umrah. |
Di London Mentan menjadi pembicara utama pada WORLD SUSTAINABLE PALM OIL CONFERENCE “The Road Ahead for Sustainable Palm Oil”, tanggal, 15 September 2008.
Pada kesempatan tersebut Mentan juga melakukan wawancara dengan Radio BBC Seksi Indonesia, BBC TV untuk acara Asia Today, serta Radio Smart FM.
Kunjungan Kerja Mentan merupakan bagian dari upaya kampanye Sustainable Palm Oil yang merupakan komoditi andalan nasional dan melakukan advokasi ataupun antisipasi terhadap dampak penerapan RED Uni Eropa yang sedang bergulir. Upaya tersebut terus ditindak lanjuti, diantaranya dengan memberikan informasi berupa buku ataupun video tentang Sustainable Palm Oil kepada lembaga terkait di uni eropa.
| 28. | SOM, Bilateral Consultative Forum, EC – RI, Brussel 17 – 19 September 2008 |
Pada acara SOM ke 7 antara Uni Eropa dan Indonesia, Kepala Badan karantina
Pertanian telah menjelaskan posisi Indonesia :
| 1. | Dalam masalah Avian Influenza serta Bovine Spongioform Encephalophaty (BSE). Mengenai BSE dijelaskan bahwa sesuai Keputusan Menteri, importasi daging dan produk daging membutuhkan dua tahap formalitas, yaitu country approval dan establishement approval. Uni Eropa dapat menempuh prosedur tersebut apabila ingin mengekspor produk daging ke Indonesia. Selanjutnya disepakati untuk melakukan tindak lanjut pembicaraan melalui technical meeting sekitar bulan Oktober di Jakarta dan diskusi pada kesempatan sidang SPS WTO di Geneva. | |
| 2. | Dijelaskan pula pada kesempatan tersebut, prosedur sertifikat halal yang sesuai dengan ketentuan CODEX, dan EU memandang perlu adanya kerjasama lebih lanjut dengan lembaga sertifikat Halal Uni Eropa. | |
| 3. | Kepala Badan Karantina juga mengangkat Issue yang terkait dengan hambatan teknis (EURO-GAP). Issue yang diangkat Indonesia terkait sejak diterapkannya EURO-GAP pada tahun 2005, membuat produk hortikultura Indonesia sulit masuk ke pasar Uni Eropa (UE).. Usulan Indonesia: | |
| a. | Uni Eropa memberikan bantuan teknis dengan mengirimkan expert EURO-GAP untuk melatih penyuluh pertanian (TOT) agar mereka mampu membimbing petani hortikultura untuk dapat memenuhi standar EURO-GAP. | |
| b. | EU membiayai Auditor dari lembaga sertifikat EURO-GAP untuk melakukan audit kepada petani yang telah mampu menerapkan EURO-GAP sehingga petani mendapatkan sertifikat dari lembaga tersebut dan produksinya bisa masuk ke pasar UE. | |
Usulan tersebut mendapat respon positip dari UE. Deptan diminta segera mempersiapkan proposalnya secara detail dan diminta proposal tersebut segera dikirim ke EU via BAPPENAS dan akan dimasukkan dalam program bantuan EU yang saat ini berjalan di Indonesia.
Terkait dengan butir 2, akan disiapkan kajian yang lebih mendalam terkait dengan kendala dan peluang ekspor produk pertanian di Uni Eropa, khususnya untuk produk hortikultura.
| 29. | Pertemuan madrid |
Atase Pertanian, bersama Atase Perdagangan dan Sekretaris Pertama Fungsi Ekonomi mengikuti kegiatan RAKOR Kerjasama Perdagangan Internasional (KPI), Departemen Perdagangan, di Madrid, Spanyol, tanggal 22-23 September 2008. Rakor tersebut bertema “Peningkatan Kerajasama Perdagangan, Pariwisata dan Investasi dalam mendukung Peningkatan Ekspor Non Migas. Rakor bertujuan meningkatkan koordinasi dan mensinergikan program pembangunan sektor perdagangan tahun 2009 antara pusat dan Perwakilan RI di luar negeri dalam rangka merampungkan RKP tahun 2009 sektor Perdagangan. Rakor dibuka oleh Dubes RI untuk kerajaan Spanyol dan sambutan pengarahan oleh Dirjen KPI.
Dengan Rakor
KPI tersebut diharapkan dapat tercipta persamaan persepsi tentang arah
kebijakan perdagangan yang telah ditetapkan dalam rangka peningkatan ekspor
non migas. Kordiansi antar fungsi terkait baik di pusat maupun perwakilan
diharapkan dapat terus ditingkatkan untuk mendukung upaya tersebut.
| 30. | Proposal Revisi Directive 91/414 tentang kandungan pestisida |
European Federation of the Trade in Dried Fruit, Edible Nut, Processed Fruit
and Vegetable, processed fishery Products, Spices, Honey and Similar
Foodstuff (FRUCOM) sebagai
representasi importer
memalui email telah menginformasikan kemungkinan implikasi dari adanya
proposal revisi Directive 91/414 yang terkait dengan otorisasi
penggunaan substansi aktif yang terkandung dalam pestisida. Proposal
tersebut memperkenalkan apa yang disebut sebagai “cut-off criteria”
yang dapat mengakibatkan larangan dari berbagai substansi aktif dan
kemungkinan besar juga larangan penggunaan pestisida yang mengandung
komponen aktif tersebut. Cut-off criteria tersebut mendasarkan pada
sifat toxikologi dari substansi aktif dari pada penentuan resiko (risk
assessment) yang terkait dengan penggunaan substansi tersebut. Karena
hanya mendasarkan pada hazard, bukan pada risk, cut-off
criteria tersebut dinilai tidak sesuai dengan pertauran WTO tentang
pestisida.
Menurut risk assessment yang dilakukan oleh otoritas UK, proposal Komisi Eropa dapat menyebabkan pengeluaran penggunaan insektisida sampai 10%, fungisida hingga 32% dan herbisida hingga 10%. Angka tersebut bahkan bisa berdampak lebih tinggi lagi jika tambahan cut-off criteria yang saat ini diajukan Parlemen Eropa dapat disetujui. Revisi tersebut tidak hanya berdampak pada produksi pangan di Eropa, tapi juga secara tidak langsung terhadap negara ketiga sebagai produsen dan pengekspor produk pangan ke Uni Eropa. Sekali penggunaan suatu pestisida dilarang oleh Uni eropa, maka maksimum batas residu (MRL = Maximum Residues Limit) yang diperbolehkan akan di-set pada nilai tingkat deteksi default 0.01 mg/kg, yang secara praktis berarti sama-sekali tidak boleh ada residu pestisida tersebut yang digunakan untuk produksi pangan/pakan di Uni Eropa maupun produk yang diimpor ke Uni Eropa. Mengingat banyaknya substansi aktif yang akan dihilangkan dari daftar perijinan, maka aplikasi dari negara ketiga untuk pestisida yang dapat ditolerir kemungkinan juga akan menurun drastis.
Secara praktis, banyak negara ketiga akan dipaksa untuk berhenti menggunakan pestisida yang dilarang oleh Uni Eropa, sebagai upaya untuk memastikan bahwa produk yang dieskpor tidak akan ditolak di garis perbatasan untuk masuk ke pasar Eropa. Lebih lanjut hal tersebut akan berdampak pada gangguan perdagangan untuk komoditas tertentu yang berakibat menurunnya pendapatan negara ketiga sebagai produsen, khususnya bagi negara berkembang yang ekonominya bergantung pada industri produk pertanian dan pangan.
Mengingat Parlemen Eropa akan memeriksa proposal tersebut mulai minggu depan, maka FRUCOM mengharapkan adanya dukungan advokasi dan legislasi dengan berbagai pihak untuk mencegah dampak yang lebih luas, melalui komunikasi langsung dengan anggota parlemen eropa dari Komisi yang relevan seperti internatyional trade (INTAZ) dan development (DEVE).
Dilaporkan
ke instansi terkait untuk dapat segera melakukan tindak lanjut yang tepat.
| 31. | Sidang Komite Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS) WTO ke 43, tanggal 7-10 Oktober di Jenewa |
Pertemuan sidang komite WTO-SPS merupakan pertemuan rutin yang
diselenggarakan oleh sekretariat WTO-SPS Genewa. Dalam setiap tahunnya telah
diagendakan 3 kali pertemuan dengan tujuan utama untuk mewujudkan
harmonisasi perdagangan terkait kerangka sanitary dan phytosanitary
(SPS).
Rangkaian
sidang ke 43 ini berlangsung dengan format pertemuan informal dan pertemuan
formal. Pertemuan informal dan pertemuan formal diikuti seluruh negara
anggota WTO-SPS sebanyak 157 negara, organisasi internasional (IICA, IPPC,
FAO, CODEX, OIE, ADB, CBD, dll) dan negara lainnya sebagai observer.
Dalam perjalanan sidang diantara kedua pertemuan tersebut, masing-masing negara anggota WTO-SPS memanfaatkannya untuk pertemuan bilateral. Dalam pertemuan bilateral dibahas substansi terhadap gangguan perdagangan kedua negara atau salah satu negara terhadap negara mitranya terkait dengan adanya kebijakan SPS yang diterapkan oleh suatu negara. Indonesia pada kesempatan tersebut melakukan pertemuan bilateral dengan USA, New Zealand, European Union, Philipines, Canada, Jepang dan Brazil.
Pada pertemuan dengan EU, Pihak EU memintakan penjelasan terhadap hasil kajian EU dari ketentuan Permentan 61, 64 dan 27 yang dinilai tidak sejalan dengan OIE dan pola perdagangan yang tidak bersahabat (not friendly trade). Beberapa catatan pihak EU terkait dengan ketentuan Indonesia yang diperlukan penjelasan: Prosedur perijinan di Indonesia begitu panjang dan diperlukan penyederhanaan, batas waktu berlaku SPP sangat singkat tidak lebih dari 180 hari, bahwa EU sebagai besar dari laporan IOE bulan Mei 2008 bahwa tergolong negligible, controlled BSE risk dan sebagian kecil saja tergolong undetermined BSE risk. Selanjutnya pihak EU memintakan pemahaman kepada Indonesia EU sebagai single market sehingga ketentuan EU merupakan satu kesatuan bukan berdasarkan country to country, dan meminta Indonesia untuk dapat memberlakukan ketentuan importasi daging dari EU sebagai satu kontinental. EU juga mengharapkan Indonesia untuk membangun kepercayaan terhadap hasil kajian OIE, sehingga kawasan yang digolongkan dalam Controlled BSE risk tidak diperlukan lagi establihment approval. EU menjelaskan juga terhadap transpance yang ada di EU terkait dalam memberikan jaminan produk EU aman melalui kegiatan seminar dan workshop pada bulan November 2008, diharapkan perwakilan Indonesia dapat melihat langsung sistem traceablity yang ada di EU.
Tim DELRI memberikan penjelasan kepada EU terkait dengan jaminan kesehatan hewan, keamanan pangan dan kehalalan terhadap produk daging yang akan diekspor ke Indonesia tidak hanya memperhatikan azas aman dikonsumsi juga memperhatikan aspek religius (halal), sehingga EU perlu mempertimbangkan ketentuan tersebut.
Selanjutnya Indonesia memintakan penjelasan kepada EU, bagaimana EU dapat memberikan suatu jaminan terhadap produk daging/ternak yang dilalu lintaskan antar negara (transborder) di Eropa, terutama dari kawasan undetermined ke negligible atau controlled BSE risk. Indonesia mengetahui bahwa sistem kompetensi pengawasan setiap negara di Eropa berbeda-beda walaupun dalam satu kesatuan di EU.
Laporan oleh delegasi Indonesia pada sidang tersebut diketuai oleh Syukur (Kepala Badan Karantina Pertanian), dengan anggota delegasi Hari Priyono (Sekretaris Badan Karantina Pertanian), Antajo Dikin (Kepala Bagian Kerjasama dan Humas Badan Karantina Pertanian/Ketua Sekretariat SPS-Indonesia) Edy Hartulistiyoso (Atase Pertanian KBRI - Brussels).
Berdasarkan hasil diskusi dg EU, beberapa hal yang perlu ditindak lanjuti antara lain:
a. EU akan memberikan informasi sistem monitoring dan evaluasi pengawasan penyakit di EU per negera dan mitra negara (terutama dilintas batas), sebagai bahan pertimbangan Tim ahli untuk mengkaji status EU;
b. EU juga akan memberikan informasi sistem keamanan pangan termasuk halal yang untuk ditindak lanjuti oleh MUI.
c.
EU akan memberikan informasi sistem otoritas kompetensi pengawasan
kesehatan ternak di EU.
| 32. | Sidang Commitee on Sanitary and Phytosanitary Measures berikutnya direncanakan akan berlangsung tanggal 25 – 26 February 2008 |
Amandement of the lists of stablishements/vessels
(Ref.: 2561/P2HP/ps240) KBRI Brussel telah menerima salinan fax dari Mr.
Paul VAN GELDORP, Head of Unit International Questions (Bilateral), DG
SANCO – European Commission, tertanggal 23 Oktober 2008, yang
menyampaikan bahwa permintaan amandement of the lists of
establishements/vessels (Ref.: B.2561/P2HP/ps240) telah diterima oleh DG
SANCO.
Jika tidak terjadi catatan/penolakan oleh negara anggota UE, maka dalam jangka waktu 20 hari kerja setelah notifikasi dari Komisi Eropa, sesuai Artikel 12 Regulasi 854/2004 akan dilakukan prosedur berikut:
| a. | Notifikasi telah dikirim ke negara anggota UE pada tanggal 20 Oktober 2008; |
| b. | Publikasi di website SANCO, dijadwalkan pada tanggal 17 November 2008; |
| c. | Pemberlakuan dari updated list, dijadwalkan mulai tanggal 01 Desember 2008 |
Telah dilaporkan
| 33. | Investigasi European Anti-Fraud Office (OLAF), European Commission, terkait dugaan anti dumping ekspor glyphosate ke Eropa |
KBRI Brussel telah menerima fax dari European Anti-Fraud Office (OLAF),
European Commission, tertanggal 20 Oktober 2008, terkait dugaan anti
dumping ekspor glyphosate ke Eropa.
Diinformasikan bahwa OLAF tengah melakukan investigasi tentang dugaan fraudulent Importations ke Komunitas Eropa dari produk glyphosate yang dinyatakan berasal dari Indonesia, namun diduga berasal dari Cina. Produk glyphosate dari Cina saat ini diklasifikasikan dalam kode CN ex 2931 00 95 (TARIC codes 2931 00 95 81) dan ex 3808 30 27 11 dan 13808 30 27 19). Glyphosate merupakan non-selective herbisida dalam berbagai bentuk konsentrasi dengan komponen utama adalah asam, garam dan bahan kimia lainnya. Produk dimaksud merupakan subject to anti-dumping duties dan telah diperluas penerapannya oleh Komisi Eropa ke negara asia lainnya seperti Malaysia dan Taiwan.
Produk subyek investigasi tersebut diduga diproduksi oleh sebuah perusahaan yang berlokasi di Pulau Batam dan diekspor melalui seller yang berlokasi di Singapura kepada pelanggan di Hamburg, Jerman. Produk masuk ke Eropa melalui Antwerp (Belgia) atau Valencia (Spanyol), dengan dokumen GSP Certificate yang dikeluarkan oleh Batam Industrial
Development Authorities (BIDA). Baik produsen ataupun penjual diduga berasal dari pemilik yang sama. Dari dokumen komersial yang ada dideteksi adanya ketimpangan antara harga dan tarif.
| 1. | Permintaan pasca verifikasi telah disampaikan dan BIDA menyatakan glyphosate berasal dari Indonesia, tanpa adanya informasi tentang proses produksi, penggunaan bahan baku dan biaya produksi. Permintaan kedua direspon BIDA dengan meneruskan deskripsi produksi yang diberikan oleh produsen. |
| 2. | Proses produksi sebagaimana digambarkan oleh produsen terduga dan hasil analisis kimia dari sample ternyata tidak menunjukkan kesesuaian. Keterangan yang disampaikan, glyphosate diproduksi melalui reduksi oksidasi (PMIDA) yang bahannya diimport dari USA, namun hasil anailis sample menunjukkan proses berawal dari glycine melalui “glycine route”, proses produksi yang biasa digunakan oleh produsen Cina. |
| 3. | Diduga Surat Keterangan Form A yang dikeluarkan berdasar informasi yang tidak sebenarnya yang diberikan oleh perusahaan kepada otoritas Indonesia untuk menghindari pembayaran anti-dumping duties yang diberlakukan untuk Glyphosate yang berasal dari Cina. |
| 4. | Berkenaan dengan hal tersebut, OLAF meminta persetujuan atas rencana misi Eropa ke Indonesia yang terdiri dari OLAF dan Customs investigators, pada pertengahan kedua bulan November 2008. |
Telah dilaporkan ke Jakarta dan pd Atase Perdagangan Via telpon, tgl 6 November 2008, Depdag memberitahukan sedang melakukan koordinasi terkait dengan masalah tersebut
| 34. | Kunjungan kerja Kepala Biro Keuangan dan Perlengkapan dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Biro Kerjasama Luar negeri- Deptan, tanggal 20 s/d 22 Oktober |
Kepala Biro Keuangan dan Perlengkapan (M. Cezie Hasyim) dan Kepala Tata
Usaha Biro Kerjasama Luar negeri- Deptan, (Harjito) telah berkunjung ke
Brussel (kawat terlampir), pada tanggal 20 s/d 22 Oktober 2008. Kunjungan
dimaksudkan untuk melakukan pembinaan administrasi dan keuangan serta
melkakukan kajian bagi perbaikan sistem kelembagaan kerjasama luar negeri di
bidang pertanian.
Pada kesempatan tersebut, selain diskusi intensif untuk menggali potensi dan kendala berkenaan dengan tupoksi atase pertanian, juga dilakukan peninjauan Lokasi Pameran Foire de Libramont (Wahlexpo) di Libramont, Belgia dan Pasar Tradisional Produk Pertanian di Luxembourg.
Diantara hasil diskusi adalah:
| - | Perlunya perbaikan struktur anggaran disesuaikan dengan kegiatan di lingkup Eropa, termasuk penambahan biaya promosi. |
| - | Perlunya institusi yang komprehensip pada Biro Kerjasama Luar Negeri untuk dapat menindak lanjuti inisiasi ataupun peluang kerjasama luar negeri |
| - | Perlunya fasilitas pendukung yang memadai bagi pelasanaan tupoksi attani |
Ka Biro Keuangan telah membantu menghubungi produsen mesin pertanian dan mendapatkan respon yang positif untuk berpartisipasi dalam pameran di Libramont.
Kontribusi pada Food Festival, Hotel Hilton, 24 Okt.-2 November 2008
Bidang pertanian berkontribusi dalam Food Festival, Hotel Hilton, 24 Okt.-2 November 2008 dengan menampilkan aneka produk hasil pertanian, serta menyajikan sample kopi untuk dicoba langsung oleh pengunjung. Selain itu, informasi berupa video tentang kelapa sawit juga ditampilkan secara kontinyu.
| 35. | Kunjungan Inspektorat Jenderal Pertanian, Departemen Pertanian, 28 Oktober – 2 November 2008 |
Tim Inspektorat Jenderal, Departemen Pertanian telah melakukan kunjungan dinas di KBRI Brussel pada tanggal 28 Oktober – 2 November 2008. Tim tersebut terdiri dari:
Kunjungan dimaksudkan untuk melakukan evaluasi kinerja Atase Pertanian KBRI Brussels. Selain melalui evaluasi dokumen kerja, juga dilakukan kunjungan lapang ke Lokasi Pameran Foire de Libramont (Wahlexpo) di Libramont, Belgia, serta kunjungan ke Pilot Plant Processing Bio-oil di Jerman.
Secara umum evaluasi berlangsung dengan baik, dan rekomendasi2 untuk peningkatan kinerja akan diberikan.
Masukan-masukan hasil diskusi selama kunjungan akan dilakukan untuk memperbaiki kinerja.
| 36. | Kunjungan ke Pilot Plant Bio-Oil |
Atas undangan dari Indobel Pada tanggal 29 Oktober 2008, Atase Pertanian bersama Atase Perindustrian dan Tim Itjen Deptan telah mengunjungi Pilot Plant BioOil di Buelkau, Jerman. Pilot plant tersebut merupakan pengembangan ablative fast pyrolysis yang mengkonversi biomassa menjadi bio-oil yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Pada kesempatan tersebut dijelaskan dan diperagakan, bagaimana konversi limbah kayu dari industri “packaging” dimanfaatkan untuk menghasilkan bio-oil yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar generator listrik. Secarta umum teknologi ini sangat menarik mengingat bahan baku biomassa sangat melimpah di tanah air, seperti jerami padi, cangkang/batok kelapa, tandan kosong kelapa sawit, sis penggergajian dsb. Teknologi tersebut memungkinkan untuk diterapkan dan dikaitkan dengan mekanisme CDM sebagai bagian dari program Global Warming.
Tim Itjen membawa sample bio-oil untuk disampaikan kepada expert di Jakarta dan sebagai bahan diskusi bagi tindak lanjut berikutnya.
Sebuah workshop
direncanakan akan dilaksanakan di Jakarta, untuk memperkenalkan teknologi
ini lebih lanjut dan mendiskusikan tindak lanjut pemanfaatan serta
kerjasamanya.
| 37. | Kajian “Peluang dan Tantangan Produk Hortikultura di Pasar Eropa” |
Kajian “Peluang dan Tantangan Produk Hortikultura di Pasar Eropa” yang sedang dilakukan masih pada tahap pengumpulan data yang mencakup:
- Statistik produksi dan konsumsi hortikultur di dalam negeri
- Statistik produksi dan konsumsi hortikultur di Uni Eropa
- Peraturan, Standarisasi dan Sertifikasi produk hortikultura
- Kendala-kendala perdagangan: TBT, SPS, negara pesaing dsb.
- Data pendukung lainya.
Dari data yang terkumpul akan dilakukan analisis lebih lanjut melalui SWOT Analysis sebagai bahan bagi aksi tindak lanjut.
| 38. | Rencana Kunjungan Mentan ke Berlin, dalam rangka Workshop on Promoting Sustainable Palm Oil, 11 – 13 Desember 2008 |
Menteri Pertanian RI akan menghadiri Workshop on Promoting Sustainable Palm Oil, 11 – 13 Desember 2008, di Berlin, dan melakukan rangkaian kunjungan dan pertemuan dengan pejabat Jerman. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara Deptan dan KBRI Berlin dan merupakan kelanjutan rangkaian kampanye Sustainable Palm Oil di Eropa yang telah berlangsung di Amsterdam, Brussel, dan London. Sesuai brafax, Attani diminta untuk hadir pada kesempatan tersebut.
Koordinasi dengan KBRI Berlin, c/q Ibu Wahyu dan Ibu Silvie
| 39. | Seminar on Sanitary and Phytosanitary issues, Brussels, 26 – 28 November |
Attani telah mengikuti Seminar on Sanitary and Phytosanitary Issues, for Administrators from ASEAN Countries yang berlangsung di Brussels, 26 – 28 November 2008. Seminar diikuti 46 peserta dari Brunei, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippines, Thailand dan Vietnam. Peserta dari Indonesia berjumlah 7 orang, terdiri dari Attani KBRI Brussel, Atdag PTRI Geneva, Dr. Antario Dikin, Mira Hartati dan Hermawan dari Badan Karantina Pertanian – Deptan, serta Heni Irawati dan Widya Rusitanto dari DKP.
Seminar diselenggarakan oleh EC DG Trade bekerjasama dengan DG SANCO dan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kepada administrator SPS dari negara ASEAN tentang SPS dan Food Safety System di Uni Eropa. Presentasi baik theoretical dan practical example tentang EU food safety system diberikan oleh experts dari Uni Eropa, mencakup animal health issues, import requirements relating to animal foods, plants, veterinary drugs dan food savety control system secara umum.
Melalui
seminar ini diharapkan terjadi peningkatan pemahaman tentang penting SPS dan
food safety untuk kelangsungan kerjasama export-import ASEAN dan EU.
Sehubungan dengan hal tersebut, akan dijajagi peluang-peluang kerjasama
ataupun technical assistance dengan issues terkait.
| 40. | Kunjungan Mr. Per Bondesen ke Indonesia, tanggal 18 November |
Sesuai rencana, Mr. Bondesen dalam kapasitasnya sebagai senior advisor Menteri Keuangan Norwegia telah berkunjung ke Indonesia pada tanggal 18 November 2008, dalam rangkaian kunjungan mengikuti the Asia Carbon Forum 2008 conference di Singapore. Selama di Indonesia Mr. Bondesen bertemu dengan Dr. Rudi Lumanto, Staf Khusus Mentan, dan mendiskusikan tentang sustainable development in the field of agriculture and the food processing industry, serta Dr. Arif Imam Suroso, Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi, IPB dan Tim expert IPB, serta dan Kennedy Simanjuntak dari untuk merintis kerjasama yang berkaitan dengan sustainable practices in development and the scope for obtaining leverage from the use of the flexible Kyoto mechanism called CDM (Clean Development Mechanism).
Komunikasi dengan Mr. Per Bondesen sdg dilakukan untuk merencanakan tindak lanjuti kunjungan tersebut Pertemuan. Koordinasi akan dilakukan dengan Deptan, BAPENNAS dan IPB.
| 41. | Triesteespresso Expo 2008, tanggal 12 – 15 November 2008 |
Atase Pertanian telah mengunjungi pameran Triesteespresso Expo 2008, tanggal 12 – 15 November 2008. Indonesia dibawah koordinasi Ditjen P2HP memerkan produk kopi (coffee bean) dari berbagai daerah, baik Robusta maupun Arabica, serta penyajian coffee espresso dari salah satu perusahaan peserta. Salah satu peserta menampilkan kopi luwak yang sangat menarik perhatian pengunjung. Selain sebagai ajang pameran tentang berbagai produk yang terkait dengan espresso coffee, juga dilakukan lomba penyajian espresso coffee dari berbagai onsum. Keluar sebagai pemenang adalah Tim Denmark, diikuti Russia dan Irlandia. Dalam kesempatan yang sama juga dilakukan business meeting yang dikoordinasikan oleh Attani dan Atdag KBRI Roma.
Sehari sebelum pelaksanaan Expo diselenggarakan seminar tentang produksi dan konsumsi kopi di masa mendatang. Dr. Nestor Osorio, Direktur Eksekutif Organisasi Kopi Internasional (Internasional Coffee International/ICO ) menyampaikan bahwa persediaan kopi dunia akan menipis. Mr. Osorio mengatakan bahwa dalam 5 tahun ke depan persediaan kopi dunia akan semakin menurun. Penyebab dari penurunan ini antara lain adalah semakin mahalnya harga input produksi pertanian seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, sehingga menyebabkan produksi kopi dunia semakin sulit meningkat bahkan ons jadi malah menurun, sementara di sisi lain terjadi peningkatan konsumsi kopi dunia yang tidak saja terjadi di Negara onsumer kopi tetapi juga di Negara penghasil kopi seperti Brazil, India, Indonesia. Brazil yang merupakan eksportir pertama dunia ons jadi sekaligus menjadi onsumer kopi terbesar di tahun mendatang, sementara menurut Dr. Surip Mawardi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember yang juga sebagai salah satu pembicara dalam seminar ini mengatakan bahwa laju konsumsi kopi Indonesia mencapai 3 % pertahunnya.
Berdasarkan data dari ICO, konsumsi kopi dunia tahun 2005 mencapai 118 Juta Karung à 60 kg, tahun 2006 meningkat menjadi 121 juta karung, terus meningkat menjadi 125 juta karung tahun 2007, dan tahun 2008 ini diduga konsumsi kopi dunia meningkat menjadi 128 juta karung.
Pembicara yang tampil dalam Seminar Internasional yang mengambil thema” The Rise in World Consumption and the Future of Coffee Production: a Critical Balance” ini selain dari Brazil dan Indonesia, juga tampil perwakilan dari Vietnam, India, dan Guatemala dengan dimoderatori oleg Mr. Vincenzo Sandalj yang merupakan Presiden Asosiasi Kopi Trieste yang perusahaannya juga impor kopi Indonesia.
Informasi tsb merupakan kesempatan emas bagi Indonesia untuk mengisi pangsa pasar ini mengingat produktivitas kopi rata-rata Indonesia yang relative masing sangat rendah yaitu sekitar 850 kg/ha sementara di banyak negara produktivitas tanaman kopinya sudah di atas 1 ton/ha bahkan di beberapa Negara bisa mencapai 1,5 ton/ha, disamping masih tersedianya lahan potensial untuk tanaman kopi.
| 42. | 3rd International Halal Food Conference 2008 |
3rd International Hala Food Conference 2008, telah berlangsung pada tanggal 21 November 2008, bertempat di Hotel Sheraton, Brussels-Zaventem. Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Islamic Food Council of Europe, dihadiri oleh peserta dari Indonesia, Singapura, USA, South Africa, UK, Netherlands, India, Sri Lanka Denmark dan Belgia. Peserta dari Indonesia diwakili oleh Drs. Amidhan, Ketua MUI yang mempresentasikan makalah tentang Halal Certification Procedures in Indonesia.
Konferensi tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang benar tentang pangan halal dan prosedur sertifikasi pangan halal serta upaya untuk mengatasi kendala yang muncul di lapangan. Volume perdagangan pangan halal meningkat dan sertifikat halal menjadi instrumen yang sangat penting. Oleh karena itu promosi pa,ngan halal terus dilakukan dengan isu marketing Halal as A Premium Brand.
| 43. | Workshop “Promoting Sustainable Palm Oil”, Berlin, 11 Desember 2008 |
Attani telah mengikuti Workshop on Promoting Sustainable Palm Oil yang diselenggarakan oleh Ditjen P2HP bekerjasama dengan KBRI Berlin dan Dewan Minyak Sawit pada tanggal 11 Desember 2008. Workshop diikuti oleh sekitar 60 peserta dari berbagai kalangan di Jerman, a.l. Asosiasi bioenergi/biofuel? Asosiasi importir minyak nabati, industri pengguna minyak sawit, pejabat pemerintah dari kementrian Pertanian, Kementrian Ekonomi dan Teknologi serta Kementrian Luar negeri Jerman, serta NGO.
Workshop dibuka oleh KUAI RI di Berlin, dilanjutkan sambutan oleh Dirjen Amerop Deplu dan Keynotespeech Mentan yang disampaikan oleh Dirken P2HP. Sesi diskusi panel dipandu oleh Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit, dan menampilkan pembicara 1. Bryan Dyer, Managing Director PT London Sumatra Tbk, 2. Maruli Gultom, PresKom PTP Nusantara V, 3. Adrian Suharto, CC Manager PT Asian Agri, 4. P. Tjakrawan, Sekjen APROBI, 5. Kalanithi Nesaretnam dari Malaysian Palm Oil Board.
Workshop telah berlangsung dengan baik dan memberikan informasi yang komprehensif tentang pengembangan kelapa sawit secara sustainable di Indonesia.
Dirjen Asia Pasifik Kemlu Jerman, Mr. Hans Henning Blomeyer-Bartenstein dalam pertemuan dengan Dirjen Amerop Deplu menyampaikan bahwa pihaknya bermaksud menfasilitasi pertemuan untuk membicarakan upaya-upaya konstrukltif untuk menangani masalah kelapa sawit. Perwakilan Berlin akan menindak lanjuti hasil pertemuan tersebut.
| 44. | Pertemuan DKP dengan Komisi Eropa dalam rangka diskusi tentang EU legislation on IUU-Fishing |
Dirjen P2HP dan Tim melakukan kunjungan ke Komisi Eropa (DG MARE) tanggal 19 Desember 2008, untuk mendiskusikan tentang draft EC Regulation on Ilegal, Unregulated and Unreported (IUU) Fishing yang dijadwalkan berlaku sejak 1 Januari 2010, khususnya yang terkait dengan sertifikasi. Pada hari yang sama juga dilakukan diskusi dengan staf KBRI Brussel tentang masalah yang terkait dengan IUU Fishing. Sebelumnya Tim DKP juga melakukan kunjungan ke Border Control Post di Rotteram pada tanggal 17 Desember, serta diskusi dengan Universitas Wageningen pada tanggal 18 Desember terkait kerjasama ;
· Strengthening fisheries inspection (2008: Implementation NRCP) 2008-2009
· Fishery data management 2009
· Feasibility study traceability 2009
· Valcapfish 2009-2010
Disepakati, Tim DG MARE akan berkunjung ke Indonesia pada semester pertama 2009 untuk melakukan Workshop IUU Fishing yang mengundang seluruh stakeholder. Undangan akan dikirimkan oleh DKP kepada DG MARE.