KEADAAN GEOGRAFIS
GAMBARAN UMUM PROVINSI BANTEN
Wilayah
Banten berada pada batas astronomi 5º 7’ 50” - 7º 1’ 11” Lintang Selatan dan
105º 1’ 11” - 106º 7’ 12” Bujur Timur, berdasarkan UU RI Nomor 23 tahun 2000
luas wilayah Banten adalah 8.651,20 Km2 . Secara wilayah pemerintahan
Provinsi Banten terdiri dari 2
Provinsi Banten mempunyai batas wilayah:
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah
Timur : Provinsi DKI
Sebelah Selatan : Samudra Hindia
Sebelah Barat : Selat Sunda
Wilayah laut
Banten merupakan salah satu jalur laut potensial, Selat Sunda merupakan salah
satu jalur yang dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia, Selandia
Baru, dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia dan Singapura.
Disamping itu Banten merupakan jalur perlintasan/penghubung dua pulau besar di
Kondisi topografi Banten adalah sebagai berikut :
1.
Wilayah
datar (kemiringan 0 - 2 %) seluas 574.090 Ha
2.
Wilayah
bergelombang (kemiringan 2 - 15%) seluas 186.320 Ha
3.
Wilayah
curam (kemiringan 15 - 40%) seluas 118.470,50 Ha
2. Topografi.
Topografi wilayah Provinsi Banten berkisar pada ketinggian 0 – 1.000 m dpl.
Secara umum kondisi topografi wilayah Provinsi Banten merupakan dataran rendah
yang berkisar antara 0 – 200 m dpl yang terletak di daerah Kota Cilegon, Kota
Tangerang, Kabupaten Pandeglang, dan sebagian besar Kabupaten Serang. Adapun
daerah Lebak Tengah dan sebagian kecil Kabupaten Pandeglang memiliki ketinggian
berkisar 201 – 2.000 m dpl dan daerah Lebak Timur memiliki ketinggian 501 –
2.000 m dpl yang terdapat di Puncak Gunung Sanggabuana dan Gunung Halimun.
Kondisi topografi suatu wilayah berkaitan dengan bentuk raut permukaan wilayah
atau morfologi. Morfologi wilayah Banten secara umum terbagi menjadi tiga
kelompok yaitu morfologi dataran, perbukitan landai-sedang (bergelombang
rendah-sedang) dan perbukitan terjal. Morfologi Dataran Rendah umumnya terdapat
di daerah bagian utara dan sebagian selatan. Wilayah dataran merupakan wilayah
yang mempunyai ketinggian kurang dari 50 meter dpl (di atas permukaan laut)
sampai wilayah pantai yang mempunyai ketinggian 0 – 1 m dpl. Morfologi
Perbukitan Bergelombang Rendah - Sedang sebagian besar menempati daerah bagian
tengah wilayah studi. Wilayah perbukitan terletak pada wilayah yang mempunyai
ketinggian minimum 50 m dpl. Di bagian utara Kota Cilegon terdapat wilayah
puncak Gunung Gede yang memiliki ketingian maksimum 553 m dpl, sedangkan
perbukitan di Kabupaten Serang terdapat wilayah selatan Kecamatan Mancak dan
Waringin Kurung dan di Kabupaten Pandeglang wilayah perbukitan berada di selatan.
Di Kabupaten Lebak terdapat perbukitan di timur berbatasan dengan Bogor dan
Sukabumi dengan karakteristik litologi ditempati oleh satuan litologi sedimen
tua yang terintrusi oleh batuan beku dalam seperti batuan beku granit,
granodiorit, diorit dan andesit. Biasanya pada daerah sekitar terobosaan batuan
beku tersebut terjadi suatu proses remineralisasi yang mengandung nilai sangat
ekonomis seperti cebakan bijih timah dan tembaga.
3. Hidrologi dan Klimatologi.
Potensi sumber daya air wilayah Provinsi Banten banyak ditemui di Kabupaten
Lebak, sebab sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan lindung dan hutan
produksi terbatas.
Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai (DAS), Provinsi Banten dibagi menjadi
enam DAS, yaitu :
4. Kemiringan
Kondisi kemiringan lahan di Provinsi Banten terbagi menjadi tiga kondisi yang
ekstrim yaitu:
Perbedaan kondisi alamiah ini turut berpengaruh terhadap timbulnya
ketimpangan pembangunan yang semakin tajam, yaitu wilayah sebelah utara memiliki
peluang berkembang relatif lebih besar daripada wilayah sebelah Selatan.
5. Jenis Tanah
Sumber daya tanah wilayah Provinsi Banten secara geografis terbagi dua tipe
tanah yaitu: (a) kelompok tipe tanah sisa atau residu dan (b) kelompok tipe
tanah hasil angkutan. Secara umum distribusi dari masing-masing tipe tanah ini
di wilayah Propinsi Banten, terdapat di Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak,
Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Cilegon.
Masing-masing tipe tanah yang terdapat di wilayah tersebut antara lain: 1.
aluvial pantai dan sungai; 2. latosol; 3. podsolik merah kuning; 4. regosol;
5. andosol; 6. brown forest; 7. glei.
6. Geologi
Struktur geologi daerah Banten terdiri dari formasi batuan dengan tingkat
ketebalan dari tiap-tiap formasi berkisar antara 200 – 800 meter dan tebal
keseluruhan diperkirakan melebihi 3.500 meter. Formasi Bojongmanik merupakan
satuan tertua berusia Miosen akhir, batuannya terdiri dari perselingan antara
batu pasir dan lempung pasiran, batu gamping, batu pasir tufaan, konglomerat dan
breksi andesit, umurnya diduga Pliosen awal. Berikutnya adalah Formasi Cipacar
yang terdiri dari tuf batu apung berselingan dengan lempung tufaan, konglomerat
dan napal glaukonitan, umurnya diiperkirakan Pliosen akhir. Di atas formasi ini
adalah Formasi Bojong yang terdiri dari napal pasiran, lempung pasiran, batu
gamping kokina dan tuf.
Banten bagian selatan terdiri atas batuan sedimen, batuan gunung api, batuan
terobosan dan Alluvium yang berumur mulai Miosen awal hingga Resen, satuan
tertua daerah ini adalah Formasi Bayah yang berumur Eosen.
Formasi Bayah terdiri dari tiga anggota yaitu Anggota Konglomerat, Batu Lempung
dan Batu Gamping. Selanjutnya adalah Formasi Cicaruruep, Formasi Cijengkol,
Formasi Citarate, Formasi Cimapang, Formasi Sareweh, Formasi Badui, Formasi
Cimancuri dan Formasi Cikotok.