|
1. |
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi
Bengkulu memiliki tugas pokok menyelenggarakan urusan rumah tangga
baik desentralisasi maupun dekonsentrasi di bidang peternakan dan
kesehatan hewan yang diberi kewenangan oleh gubernur serta tugas
perbantuan yang diberikan oleh pemerintah berdasarkan perundangan
yang berlaku. |
|
2. |
Terjadi peningkatan populasi dan produksi
ternak sehingga konsumsi protein hewani meningkat dari 3,15gram/kapita/tahun
(tahun 2005) menjadi 3,19gram/kapita/tahun (tahun 2006) atau
meningkat sebesar 1,27%. Pada tahun 2007 diperkirakan akan menjadi
3,40gram/kapita/tahun atau meningkat menjadi 6,58%. Peningkatan
konsumsi protein hewani ini merupakan salah satu indikator
pembangunan peternakan. |
|
3. |
Untuk meningkatkan usaha peternakan, dilakukan
penyebaran ternak melalui perguliran. Jumlah ternak pemerintah yang
telah digulirkan kepada masyarakat 8.689 ekor pada tahun 2006 dan
menjadi 9.163 ekor pada tahun 2007 atau meningkat 5,5%. Adapun
penyebaran ternak ini dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti
Sistem Integrasi Sapi Sawit (SISKA), Sistim Integrasi Sapi-Jagung
(SISGUNG),Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK), perguliran sapi
IFAD, pengembangan bibit sapi, penggantian sapi betina produktif di
Rumah Potong Hewan (RPH) dan lain-lain. |
|
4. |
Di samping melalui perguliran ternak,
peningkatan usahatani ternak juga dilakukan melalui LM3(Lembaga
Mandiri Mengakar pada Masyarakat). Pada tahun 2006 ada 10 pondok
pesantren yang mendapatkan bantuan dengan penyerapan dana Rp
1.641.830.000,- dan pada tahun 2007 menjadi 13 pondok pesantren
dengan penyerapan dana Rp 2.727.500.000,- atau meningkat 66%. |
|
5. |
Secara umum, jumlah investasi pihak swasta pada
usaha peternakan pada tahun 2006 sebesar Rp 3,5M dan meningkat pada
tahun 2007 menjadi Rp 4M. |
|
6. |
Salah satu fungsi Dinas Peternakan dan
Kesehatan Hewan adalah mengendalikan, mencegah dan memberantas
penyakit hewan. Untuk itu telah dilakukan upaya lebih intensif pada
tahun 2006 sehingga pada tahun 2007 dihasilkan : |
| |
- |
Kasus Avian Influenza (AI) atau Flu Burung,
menurun sebesar 77% |
| |
- |
Penurunan 300% kasus Septichaemia Epizootica
(SE) atau Penyakit Ngorok pada ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan
domba) |
| |
- |
Kasus Rabies menurun 68% |
| |
- |
Penurunan jumlah kematian ternak dari yang
sakit menurun dari 5% menjadi 2% |
|
7. |
Sarana peternakan yang dilengkapi pada tahun
2006 antara lain : |
| |
- |
Pasar ternak di Kabupaten Rejang Lebong dan
Kota Bengkulu |
| |
- |
Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner 1
unit |
| |
- |
Kebun Hijauan Makanan Ternak (HMT) seluas 100
hektar |
| |
- |
Pembuatan embung untuk ternak 10 unit |
| |
- |
Pos Kesehatan Hewan (POSKESWAN) 1 unit |
| |
- |
Kendaran khusus (Roda-4) 2 unit |
| |
- |
Kendaraan roda-2 sebanyak 6 unit |
| |
- |
Pompanisasi 13 unit |
| |
- |
Irigasi air dangkal 10 unit |
| |
- |
Jalan produksi 2 km |
| |
- |
Padang penggembalaan 30 Ha |
| |
- |
Optimalisasi lahan 100 Ha |
|
8. |
Sarana peternakan yang dilengkapi pada tahun
2007 antara lain : |
| |
- |
POSKESWAN 2 unit |
| |
- |
Rumah Potong Hewan (RPH) 1 unit |
| |
- |
ULIB 3 unit |
| |
- |
Kendaraan roda-2 sebanyak unit |
| |
- |
Kebun HMT 45 Ha |
| |
- |
Padang penggembalaan 40 Ha |
| |
- |
Pembuatan embung 2 unit |
| |
- |
Irigasi air dangkal 3 unit |
| |
- |
Irigasi air permukaan 3 unit |
| |
- |
Jalan produksi 5 km |
|
9. |
Dalam meningkatkan sumberdaya manusia (SDM),
pada tahun 2006 telah dilatih 130 orang petugas dan 50 orang petani.
Pada tahun 2007 telah dilatih 30 orang petugas dan 20 orang petani.
Sehingga pembangunan peternakan diikuti oleh peningkatan SDM. |
|
10. |
Penyerapan dana APBN dan APBD secara
keseluruhan untuk peternakan di Propinsi Bengkulu pada tahun 2006
mencapai Rp16.289.223.500,- sedangkan pada tahun 2007
meningkat menjadi Rp20.150.475.000,- atau dengan kata lain
meningkat 24%. |